© Arie Rakhmat Riyadi.
Dec 2015.
All Rights Reserved.

Iklan

Arsip

September 2017
M T W T F S S
« May    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Iklan

Iklan

Begin with The End in Mind (Mulai dari Tujuan Akhir)

Begin with the End in Mind (Mulai dari Tujuan Akhir) adalah kebiasaan nomor dua dari Tujuh Kebiasaan Manusia Efektif (7 Habits of Highly Effective People) racikan Stephen Covey yang paling saya selalu latih-aplikasi-sharing-kan dalam kehidupan. Di antara keenam kebiasaan lain, kebiasaan nomor dua ini memberikan arah, navigasi dan kontrol atau pengawasan terhadap setiap tindak tanduk kita dalam menjalani kehidupan, kehidupan yang efektif.

http://www.hrhwalls.com/reimg/image.php?src=http://img.hrhwalls.com/images178/z22ftbssirr.jpg&h=450&w=728

Pertanyaan sederhana yang menjelaskan kebiasaan nomor dua ini, misalnya: “what do you wanna to be when you grow up?” (mau menjadi apa nanti ketika kamu dewasa?). Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi maknanya sangat penting bagi perjalanan kehidupan orang yang ditanya; sesuai dengan jawabannya. Misalnya, jawabannya adalah menjadi seorang guru. Maka dalam proses menjalankan aktivitas kehidupannya, orang yang menyatakan jawaban tersebut harus – mau tidak mau – jika benar itu jawabannya, maka dirinya harus melalui jalan yang mengarah pada keinginannya menjadi seorang guru; tidak pada jalan lain.

Pada contoh sederhana di atas, jelas sekali bahwa kebiasaan nomor dua ini (begin with the end in mind) memberikan gambaran yang berangkat dari imajinasi pikiran. Kebiasaan ini melatih diri untuk selalu memikirkan target akhir dalam sebuah tindakan. Asumsi yang menopang kebiasaan ini adalah, bahwa setiap hasil karya manusia selalu terjadi pada dua tingkatan. Tingkatan pertama adalah tingkat imajinasi pikiran (mental creation), dan tingkatan kedua adalah tingkatan perwujudan (physical creation). Pada tingkatan pertama inilah, kebiasaan kedua ini menjadi penting, sebab kejelasan dan kejernihan pikiran untuk menggambarkan tujuan akhir akan mendorong lahirnya tingkat kedua, perwujudan tindakan. Sehingga setiap tindakan kita, menjadi fokus dan terarah pada satu tujuan yang telah ditentukan. Wajar kalau Stephen Covey menyebutnya sebagai sebuah Misson Statement (pernyataan misi). Seperti layaknya sebuah misi, harus dilaksanakan hingga tuntas (accomplished). Kejelasan (clarity) sebuah misi menjadi sangat penting sebab melahirkan rencana tindakan, dan sejumlah strategi yang efektif untuk mencapainya. Kejelasan ini juga menjadi hal penting dan utama sebagai the first C dalam the 10 keys to Success yang dibahas Brian Tracy.

(more…)

The Profile of Critical Consciousness of Indonesia University of Education Students’ on Educational Phenomenon (A Phenomenological Study of Paulo Freire’s Pedagogy)

title:
The Profile of Critical Consciousness of Indonesia University of Education Students’on Educational Phenomenon (A Phenomenological Study of Paulo Freire’s Pedagogy)
publication:
part of series:
Advances in Social Science, Education and Humanities Research
ISBN:
978-94-6252-299-2
ISSN:
2352-5398
DOI:
doi:10.2991/nfe-16.2017.12 (how to use a DOI)
author(s):
Babang Robandi, Dharma Kesuma, Arie Rakhmat Riyadi, Teguh Ibrahim
corresponding author:
Babang Robandi
publication date:
February 2017
keywords:
Critical Consciousness, Conscientization, Phenomenology, Foundation of Education, Paulo Freire’s Pedagogy
abstract:
This paper aims to discuss the phenomenon of Critical Consciousness of Indonesia University of Education Students’ on Educational Phenomenon. Critical consciousness is characterized by a critical understanding on issues of education, reasoning causality in the cause of education, transformative power of social action (praxis) and moral reasoning in fighting for the values of kindness. The method that used by this research is a transcendental phenomenology, the phenomenon of critical consciousness raised through conscientization based learning, then deepened through interviews with several students. This research has significance for mental revolution program in education launched by the Indonesian government. This study proved theoretically and practically about the profile of student or youth who have a critical consciousness.
copyright:
© Atlantis Press. This article is distributed under the terms of the Creative Commons Attribution License, which permits non-commercial use, distribution and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited.
full text:

http://www.atlantis-press.com/php/paper-details.php?from=author+index&id=25870237&querystr=authorstr%3DR

 

View Fullscreen

Pengembangan Alat Ukur Kematangan Karier Siswa Sekolah Menengah Atas

bisa ditemukan sumbernya di

http://ejournal.umm.ac.id/index.php/jipt/article/view/3837

View Fullscreen

Negara Gaduh dan Keberpihakan Media

Siapa tidak kenal Ahok. Negara Indonesia yang kita cintai gaduh gara-gara mulutnya. Terakhir terkait pernyataannya yang melecehkan ulama, K.H. Ma’ruf Amin. Gaduh negara ini. Pemerintah terlihat berkonsentrasi penuh terhadap Ahok, daripada fokus menyejahterakan rakyatnya. Ya, minggu ini negara gaduh, sangat.

Kenapa media, lihat saja judul, isi, bahkan frekuensi keberpihakan sejumlah media besar terhadap Ahok. Contoh kecil, lihat youtube trending. Isi youtube trending cenderung berpihak pada Ahok juga. Siapa di balik Ahok? Tentu orang kuat. Orang elit global. Segelintir orang yang punya kepentingan, bukan untuk kesejahteraan rakyat Indonesia.

Tidak heran kalau sekarang orang-orang lari membaca medsos. Walaupun medsos berpotensi hoax, tapi tidak jarang media besar juga menyebar hoax. Yang heran adalah, sudah terbuka informasi kebenaran yang tersebar di medsos, tapi pemerintah tutup mata. Gila kan, ketika seseorang melakukan kejahatan, mengatakan kebenaran versinya, padahal semua orang sudah tahu bahwa itu tidak benar dan tahu kebenaran aslinya.

Hikmah di balik negara gaduh dan keberpihakan media adalah semakin jelasnya posisi orang. Orang yang berpihak pada kebenaran, dan ada orang-orang yang berpihak pada kepentingan dirinya. Orang lupa diri. Tapi memang ada juga orang yang larut terbawa propaganda media, sehingga dengan kepolosannya dia terjerumus pada kelompok yang salah. Anehnya, ada juga kalangan orang berpengatahuan, atau intelek, tapi jelas juga keberpihakannya bukan pada kebenaran, tapi pada ego.

Akhirnya, kita harus selalu terus waspada. Memohon perlindungan dan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala atas semua yang telah, sedang dan akan terjadi di kemudian hari di negeri tercinta kita, Indonesia.

#CatatanAkhirPekan

 

Living in Digital Era: Development, Challenge, and Education

Materi ini di sampaikan di kegiatan berikut.

seminar-bersama-arie-rakhmat-riyadi

Powerpoint di bawah ini adalah prolog sebelum kegiatan hipnoterapi terhadap para peserta seminar dan sebagian dari materi inti kegiatan di atas. Isinya tentang perkembangan terkahir (2016) terkait ICT (era digital), tantangan dan pendidikan.

Menjadi Top Six Google Search Engine Gara-gara “Flat Earth 101”

Hari ini buka dashboard blog, nambah lagi dua komentar pada tulisan ‘“Terima Kasih Channel YouTube “Flat Earth 101”‘. Wah, ini adalah tulisan blog pemula dosen UPI yang komentarnya cukup banyak. Senang-lah… Karena penasaran, di-googling lah di search engine google dengan keyword “flat earth 101”, dan wow, haha… Hasil pencarian menunjukkan tulisan berjudul di atas berada di Top Five. Biasa saja sih, ya… Tapi, lucu dan seru juga.

Ini hasil capturenya:

flat-earth-101-trending

Pas lihat di tulisan “Incoming search terms:” wow, munculnya begini nih:

incoming-search-term-flat-earth-101

Bahkan menimbulkan komentar yang menunjukkan tingkat kekritisan seseorang pada level yang lebih tinggi dari posisi awalnya. Misalnya, komentar “Auliya Fikri U” di atas, dia mengungkapkan kekagetannya, bahwa yang nonton channel Flat Earth 101 (FE 101) bukan hanya dia, bahkan selanjutnya dia mengungkap dengan kekritisannya bahwa ada yang salah dengan sistem pendidikan yang ada di Indonesia. Terlalu jauh, mungkin, tapi dengan demikian Auliya ini telah mulai mengambil posisi, dan mengembangkan world view-nya tentang suatu hal yang menjadi concern-nya setelah selesai menonton seri FE 101. Saya sendiri, memang punya pemikiran implikasi yang besar juga terhadap pendidikan, baik secara konten maupun delivery, gara-gara FE 101 ini, terutama masalah rujukan fundasional pendidikan kita.

Di lain pihak, admin FE 101 sedang ditunggu-tunggu hasil kerja episode 11-nya. Sebab di episode 11 nantinya akan diuraikan tentang realitas flat earth seutuhnya. Hanya, ada kendala ini-itu sebagaimana yang diungkapkannya pada channel YouTube-nya di bagian diskusi. Tepat isinya sebagai berikut.

flat-earth-101-episode-11

Insya Allah ada juga yang mungkin menganggap apa sih ini, kurang kerjaan, buang-buang waktu. Untuk mereka yang bersikap seperti itu, wajar, sekaligus menyayangkan, kalau dalam bahasa sunda mah, “manglebarkeun”. Karena bagi saya ini meningkatkan keimanan, dan berimplikasi banyak kepada substansi filosofis isi dan praktik pendidikan yang ideal. Nanti-lah itu insya Allah akan saya tulis pada tulisan berikutnya. Setidaknya, luangkan waktu untuk menonton full dengan rileks dan membuka pikiran serta hati, insya Allah positif.

Ya, semoga admin FE 101 lancar aktivitas dan pekerjaannya, semoga menuai ridlo dan berkah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tidak ada yang memaksa Anda untuk percaya, dan tak ada yang boleh melarang Anda untuk percaya” (FE 101).

Akhirnya, mari kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari hal-hal kita takutkan, mulai dari hal-hal yang kita tidak ketahui, yang samar, dan yang secara nyata terbuka mengancam keimanan kita. Aamiin…

Sholat Tepat Waktu, Laki-laki Di Masjid!

Kita resapi dan praktikan isi hadits berikut.

Status hadist: Shahih.

Ketika seorang laki-laki berjalan pada suatu jalan dan menemukan dahan berduri lalu ia membuangnya maka Allah menyanjungnya dan mengampuni dosanya.

Kemudian beliau bersabda:

Orang yang mati syahid itu ada lima; orang yang mati karena penyakit kusta, orang yang mati karena sakit perut, orang yang mati kerena tenggelam, orang yang mati karena tertimpa reruntuhan dan orang yang terbunuh di jalan Allah.”

Beliau melanjutkan sabdanya:

solat-jemaah
http://syaamilquran.com/wp-content/uploads/solat-jemaah.jpg

Seandainya manusia mengetahui apa (kebaikan) yang terdapat pada adzan dan shaf awal, lalu mereka tidak dapat meraihnya kecuali dengan cara mengundi tentulah mereka akan mengundi. Dan seandainya mereka mengetahui apa yang terdapat pada bersegera menuju shalat, tentulah mereka akan berlomba-lomba. Dan seandainya mereka mengetahui kebaikan yang terdapat pada shalat ‘Atamah (shalat ‘Isya’) dan Shubuh, tentulah mereka akan mendatanginya walaupun harus dengan merangkak.”

(HR. Bukhari: 615) – http://hadits.in/bukhari/615

Saksikanlah video ini.

Selamat menunaikan ibadah Sholat, Ikhwah.. Semoga istiqomah.. aamiin..

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.