© Arie Rakhmat Riyadi.
Dec 2015.
All Rights Reserved.

Iklan

Arsip

June 2018
M T W T F S S
« Mar    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Iklan

Iklan

Ingin Stabil Kesehatan Mental (Mental Health), Raihlah Kesejahteraan (Well-Being) Hidup: Versi Tuntunan Agama

Tulisan ini adalah bagian dari makalah yang dipaparkan pada seminar internasional bertajuk The Innovative Counseling Conference di kampus Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya, 9-10 Maret 2018 lalu.

Saya kebagian peran sebagai Keynote Speaker di hari kedua dengan judul “Membangun Kesejahteraan dan Kesehatan Mental di Sekolah dan Keluarga”, begitulah judul yang diberikan panitia. Peran lain yang saya emban pada kegiatan tersebut adalah sebagai Trainer pada Workshop dengan judul “Aplikasi Hipnosis dalam Konseling (Hypnotic Counseling)”.

Nah, yang diuraikan di sini adalah tulisan sebagai Keynote Speaker. Tulisan ini adalah tulisan curhat, bahasanya tidak formal. Referensi juga tidak ngakademis formal. Bahkan tulisan yang dibagikan ke peserta melalui panitia, kelihatannya masih belum tuntas. Ya begitulah, kalau serba mepet, untung saja tidak sampe ngepet.

http://anubhavsrivastava.com/2016/01/03/happiness-is-true-success/

 

Judul yang formal di makalah seminar, kurang lebih kalau dirubah judulnya ya jadi seperti di atas “Ingin Stabil Kesehatan Mental (Mental Health), Raihlah Kesejahteraan (Well-Being) Hidup: Versi Tuntunan Agama”. Dari judul juga sudah jelas ya, arahnya bakal kemana. Ya dari pada tulisan ini tersimpan di hardisk percuma, mending melalui media ini bisa diarsipkan sekaligus berharap menuai manfaat bagi para pembaca yang kebetulan ditakdirkan Allah mampir.

Selamat membaca.

Abstrak

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran alternatif upaya membangun kesejahteraan dan kesehatan mental di sekolah dan keluarga. Hal tersebut dianggap penting dan mendesak sebab fenomena yang muncul terkait dengannya akhir-akhir ini secara faktual memerlukan perhatian yang serius, baik dari pemerintah maupun masyarakat, terutama lembaga pendidikan lebih khususnya lagi adalah peran dari konselor atau guru bimbingan dan konseling di sekolah. Pada makalah ini diuraikan logika penulis secara naratif-deskriptif yang dikonfirmasi dengan sejumlah kajian teoretik mencakup sekilas batasan-batasan dan relasi-relasi konseptual antara istilah kesejahteraan dan kesehatan mental, ringkasan sejumlah ulasan teoretik tentang konstruk kesejahteraan dan kesehatan mental, dilanjutkan dengan mengkaji sifat dasar manusia sebagai landasan bagi alternatif perancangan bentuk-bentuk usaha mengembangkan kesejahteraan dan kesehatan mental individu baik di sekolah maupun di keluarga terutama melalui peran strategis profesi bimbingan dan konseling.

Kata kunci: kesejahteraan, kesehatan mental, sekolah, keluarga, sifat dasar manusia, serta bimbingan dan konseling.

Pendahuluan 

Sebelum jauh mengulas pentingnya upaya alternatif membangun kesejahteraan dan kesehatan mental, tampaknya perlu dipahami dahulu uraian salah satu pengertian kesejahteraan dan kesehatan mental.

Menurut WHO (World Health Organization) kesehatan mental didefinisikan sebagai “…as a state of well-being in which every individual realizes his or her own potential, can cope with the normal stresses of life, can work productively and fruitfully, and is able to make a contribution to her or his community. Definisi itu sesuai dengan penekanan WHO tentang kesehatan, yaitu “…a state of complete physical, mental and social well-being and not merely the absence of disease or infirmity.” (http://www.who.int/features/factfiles/mental_health/en/). Ringkasnya, menurut WHO, kesehatan mental adalah sebuah kondisi “well-being” dimana setiap individu (1) menyadari potensi diri, (2) dapat mengatasi tekanan-tekanan umum kehidupan, (3) dapat bekerja secara produktif dan menguntungkan, dan (4) mampu memberikan kontribusi pada masyarakat. Batasan itu, sesuai dengan pengertian WHO tentang kesehatan sebagai sebuah kondisi “well-being” yang lengkap mencakup fisik, mental dan sosial; bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelemahan tertentu pada diri seseorang.

Berdasarkan definisi WHO di atas tentang kesehatan mental ternyata mengandung kata “well-being”, yang diawali dengan frasa “a state” (sebuah keadaan/kondisi), “…a state of well-being”, dan kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, “sebuah kondisi sejahtera (ke-sejahtera-an)”. Lalu, apa makna”well-being” itu? Sementara ada juga istilah “welfare”, dan ada juga dalam bahasa Inggris itu dengan arti bahasa Indonesia juga sama, yaitu “wellness”, apa bedanya? Ternyata, menurut kamus Oxford, “well-being” itu sinonimnya meliputi kata-kata berikut: welfare, health, good health, happiness, comfort, security, safety, protection, prosperity, profit, good, success, fortune, good fortune, advantage, interest, prosperousness, dan successfulness. Kemudian “wellness” menurut kamus Cambridge diartikan “the state of being healthy; health in general” atau kondisi sedang menjadi sehat; sehat secara umum. “Wellness” sinonim dengan: healthful, hygiene, public health, sanitary, sanitation, welfare, dan well-being (https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/wellness). Berdasarkan uraian tersebut, dari sisi bahasa, baik “welfare”, “wellness”, maupun “well-being” pada dasarnya itu-itu juga. Hanya kalau dilihat tipis, “welfare” menurut kamus Cambridge lebih identik dengan sifat-sifat ekonomis, atau kesejahteraan ekonomi; lalu “wellness” umumnya identik dengan kesehatan secara umum; sedangkan “well-being” lebih komprehensif, mencakup lebih aspek yang lebih banyak.

Secara singkat, uraian dua paragraf di atas, memuat logika: jika ingin sehat mental, maka syaratnya hiduplah sejahtera. Pernyataan tersebut wajar mudah diterima, sebab dari pengertian WHO tentang kesehatan mental juga ditegaskan, bahwa kesehatan mental sebagai sebuah kondisi ke-sejahtera-an. Dengan demikian, pada titik ini uraian makalah dikerucutkan pada kajian tentang kesejahteraan dan pengembangannya, karena dengan meningkatkan kesejahteraannya, diasumsikan akan meningkatkan kesehatan mentalnya, baik di lingkungan sekolah maupun keluarga. Bila nanti pembaca makalah ini ingin memperdalam pengertian (batasan-batasan) para ahli tentang makna “welfare”, “wellness”, maupun akhirnya “well-being”, bisa dirujuk tulisan-tulisan Aam Imadudin dan Idat Muqodas yang telah memaparkan detil masalah tersebut dari para teoritisi yang ada.

Agar cukup memberikan arah dalam membaca alur pikir makalah ini, terlebih dahulu berikut disajikan uraian singkat tentang konsep-teoretik “well-being” atau ke-sejahtera-an dan model-modelnya dari batasan yang telah disepakati di atas.

Dilihat dari unsur. Kesejahteraan merujuk pada perluasan dan keterhubungan beragam dimensi meliputi fisik, mental, dan sosial; lebih luas dari sekedar definisi tradisional tentang kesehatan; sebab, mencakup pilihan-pilihan dan serangkaian aktivitas yang ditujukan untuk mencapai vitalisas fisik, kesiapan mental, kepuasan sosial, sebuah rasa terpenuhi (pemenuhan/penyelesaian) (a sense of accomplishment), dan ketercukupan personal (personal fulfillment) (Naci & Ionadis, 2015).

Dilihat dari pendekatan. Dari perspektif psikologi, ada tiga sub-disiplin yang secara kritis dapat digunakan untuk mengkaji konsep kesejahteraan, yaitu (a) ilmu psikologi perkembangan, yang meninjau dari sisi pola-pola perkembangan hidup; (b) psikologi kepribadian, misalnya teori Maslow tentang aktualisasi diri, teori Rogers tentang fully function person dan lain-lain, dan (c) psikologi klinis, yang memungkinkan mengkaji ketiadaan penyakit (sakit) jiwa pada diri seseorang sebagai tanda kondisi sejahtera secara psikologis (Ryff & Keyes, 1995).

Dilihat dari model-model. Pada kesempatan ini, yang akan diurai singkat hanya enam model. Namun demikian, tujuannya bukan pada pemahaman utuh model, tapi melihat pola dari model yang ada tentang kesejahteraan yang dikemukakan ahli-ahli tersebut. Sehingga, harapannya, dengan menemukan polanya, maka pembaca makalah ini juga bisa dengan yakin mengembangkan model sendiri. Berikut ke enam model dasar kajian “well-being” dimaksud.

  1. Model Tripartite dari Diener tentang (kesejahteraan subjektif) subjective well-being. Salah satu konsep kesejahteraan dalam dunia psikologi yang paling komprehensif. Beliau mensintesis model ini pertama kali tahun 1984, yang mengemukakan bahwa ada tiga komponen dari kesejahteraan, yaitu: (1) sering munculnya pengaruh positif (frequent positive affect), (2) jarang munculnya pengaruh negatif (infrequent negative affect), dan (3) evaluasi kognitif seperti terhadap kepuasan hidup (cognitive evaluations such as life satisfaction) (Tov & Diener, 2013). Faktor kognitif, afektif dan konteks berkontribusi terhadap kesejahteraan subjektif (Galinha & Ribeiro, 2011). Lanjut Diener dan Suh (2000), kesejahteraan subjektif “…based on the idea that how each person thinks and feels about his or her life is important.”
  2. Model Enam Faktor kesejahteraan psikologis dari Carol Ryff. Ryff membuat postulat tentang enam faktor kunci untuk kesejahteraan (http://livingmeanings.com/six-criteria-well-ryffs-multidimensional-model/), yaitu: (1) penerimaan-diri (self-acceptance), (2) pertumbuhan pribadi (personal growth), (3) tujuan dalam hidup (purpose in life), (4) penguasaan lingkungan (environmental mastery), (5) kemandirian (autonomy), dan (6) hubungan positif dengan orang lain (positive relation with others).
  3. Model Flourishing dari Corey Keyes. Bagi Keyes, yang pada saat mengungkap teori ini bekerja sama dengan Carol Ryff, menyatakan mental well-being memiliki tiga komponen, yaitu: (1) emosional atau subjective well-being (juga disebut hedonicwell-being), (2) psychological well-being, dan (3) social well-being (bersama-sama juga disebut eudaimonic well-being) (Keyes, 2002). Emotional well-being fokus pada aspek-aspek subjektif, konkretnya, merasa-baik (feelingwell), sementara psychological dan social well-being fokus pada keterampilan-keterampilan, kemampuan-kemampuan dan keberfungsian secara sosial (social functioning). Model Keyes tentang mental well-being telah menerima dukungan yang sangat luas secara lintas budaya (Joshanloo, et. al., 2016).
  4. Psikologi positif dari Martin Seligman. Sebenarnya well-being adalah konsep utama dalam psikologi positif. Psikologi positif fokus kajiannya pada eudemonia, “the good life”, refleksi tentang nilai apa yang terbaik dalam hidup – faktor-faktor apa yang paling berkontribusi terhadap a well-lived and fulfilling life. Dengan tidak bermaksud membatasi definisi kehidupan yang baik (the good life), para psikolog aliran psikologi positif sepakat bahwa seseorang harus hidup bahagia, terhubung (engaged), dan menjalani hidup yang bermakna dalam rangka mengalami “the good life”. Seligman mengatakan bahwa “the good life” sebagai “menggunakan seluruh kekuatan terbaik diri setiap hari untuk memproduksi kebahagiaan autentik dan kepuasan yang berlimpah” (Seligman, 2009).
  5. Tiga jalur kebahagiaan dari Martin Seligman. Dalam bukunyga Authentic Happiness(2002) Seligman mengusulkan tiga jenis kehidupan yang membahagiakan, yaitu: (1) hidup yang menyenangkan (pleasant life): penelitian tentang ini mengkaji tentang bagaimana orang secara optimal mengalami, meramal, dan menikmati perasaan dan emosi-emosi positif sebagai bagian dari kehidupan normal dan sehat (misalnya, relationships, hobbies, interests, entertainment, dan lain-lain). Walaupun demikian, menurut Seligman ini adalah elemen paling sementara dalam kebahagian dan mungkin paling tidak terlalu penting, (2) kehidupan yang baik (good life): hal ini mengkaji tentang dampak menguntungkan dari keterlibatan, penyerapan dan konsep mengalir (flow), dirasakan oleh orang ketika terhubungan dengan aktivitas-aktivitas utama mereka. Konsep ini disebut juga “life of engagement”. Flow adalah pengalaman yang dirasakan ketika terdapat hubungan positif antara kemampuan dan kekuatan seseorang dengan tugas-tugas hidup yang mereka jalani, (3) kehidupan yang bermakna (meaningful life): pencapaian ke dalam the Meaningful Life, atau “life of affiliation”, pertanyaan-pertanyaan yang muncul adalah tentang bagaimana individu memperoleh arti positif dengan kesejahteraan, keterpemilikan, kebermaknaan, dan tujuan hidup menjadi bagian dari dan berkontribusi kepada sesuatu yang lebih besar dan lebih permanen dari dirinya sendiri (misalnya, alam, kelompok-kelompok sosial, organisasi-organisasi, pergerakan-pergerakan, tradisi-tradisi, dan sistem keyakinan tertentu).
  6. Teori PERMA dari Martin Seligman. Dalam model Flourish(2011) Seligman berargumen bahwa kategori terakhir, yaitu “meaningful life”, dapat dipertimbangkan sebagai tiga kategori berbeda lainnya. Hasilnya adalah akronim PERMA: Positive Emotions, Engagement, Relationships, Meaning and purpose, and Accomplishments. Itu adalah lima elemen teori kesejahteraan Seligman (1) Positive emotions mencakup sejumlah perasaan-perasaan, tidak hanya perasaan bahagia dan suka cita; ada juga kepuasan, kegembiraan, harga diri, kekaguman dan lainnya. Bentuk-bentuk emosi ini sering dilihat berhubungan dengan luaran yang positif, seperti umur yang lebih panjang dan hubungan-hubungan sosial yang lebih sehat. (2) Engagement merujuk pada keterlibatan serangkaian aktivitas yang tergelar dan dibangun berdasarkan minat seseorang. Mihaly Csikszentmihalyi menjelaskan bahwa engagement (keterikatan) yang sesungguhnya sebagai sebuah flow; sebuah perasaan dengan intensitas tertentu yang membawa pada “a sense of ecstasy” atau kegembiraan luar biasa dan kejelasan (clarity). Engagement melibatkan gairah untuk fokus pada tugas yang diembankan bahkan sampai bisa dikatakan kehilangan kesadaran-diri.[19] (3) Relationships, unsur ini adalah bahan bakar dari emosi-emosi positif, apakah yang berhubungan dengan teman-sepekerjaan, keluarga, hubungan romanti tertentu, atau sekedar relasi platonic. Sebagaimana dikatakan Christopher Peterson secara sederhana, “Other people matter.” Penerimaan manusia lain, situasi berbagi, dan menyebarkan hal-hal positif dapat dilakukan melalui unsur relationships ini. Bukan hanya pada masa dalam kondisi buruk (bad times), tapi juga dalam kondisi baik (good times). Faktanya, hubungan-hubungan ini dapat memperkuat satu sama lain secara positif. (4) Meaning dikenal juga sebagai sebuah tujuan (purpose), mendorong pertanyaan “why”. Menemukan dan menempatkan “why” yang jelas akan mendorong semuanya sebuah konteks dalam setiap aspek hidup. Menemukan makna adalah belajar bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari dirinya “greater than one’s self”. Meskipun menimbulkan sebuah tantangan, bekerja dengan dorongan makna akan mendorong seseorang untuk habis-habisan berjuang pada tujuan (cita-cita) yang sangat diinginkan. (5) Accomplishments adalah unsur pencapaian kesuksesan dan penguasaan. Tidak seperti bagian lain dari PERMA, accomplishments diberi catatan, karena akan mengaktifkan elemen lain dari PERMA, seperti pride, yang ada di bawah emosi positif (positive emotion). Accomplishments ini dapat muncul secara individual, atau berbasis komunitas, atau berbasis lingkungan menyenangkan atau pekerjaan.

Setelah melihat sekilas uraian teoretik di atas, maka kita bisa memahami sekarang, hal-hal apa, atau unsur-unsur, atau aspek-aspek apa yang perlu kita, sebagai individu kembangkan, agar sampai pada “a state of well-being”. Minimal dari enam model yang telah dikemukakan para ahli di atas. Sederhananya, dengan adanya konsep-konsep di atas, kesejahteraan bisa di bawa ke sebuah konteks; mau konteks individu, konteks lingkungan sekolah, atau konteks lingkungan keluarga, bahkan bisa juga konteks lingkup masyarakat. Jelaslah nanti, ada kesejahteraan individu (misal, siswa atau guru) di sekolah, kesejahteraan masing-masing anggota keluarga dan keluarga sebagai sebuah sistem, dan atau kesejahteraan anggota masyarakat atau masyarakat sebagai sebuah sistem.

Tentu, pembaca makalah ini bisa juga mengembangkan konstruk model kesejahteraan sendiri, tidak dosa. Asal kalau dalam konteks akademik, tentu harus ada rujukan saintifik yang ilmiah berdasarkan kajian teoretik maupun empirik di lapangan secara komprehensif dan sistemik.

Selanjutnya atas dasar contoh model-model konsepsi tentang kesejahteraan di atas, kita juga bisa melihat fenomena yang tampak berlawanan dengan ekspektasi kesejahteraan. Misalnya, beragam kasus-kasus dan fenomena yang terjadi akhir-akhir ini, yang menunjukkan ketidaksejahteraan, dan itu tampak pada ketidakhadiran unsur-dimensi-aspek dan indikator kesejahteraan pada diri individu baik di lingkungan sekolah maupun keluarga. Minimal, dari ke enam model yang telah diuraikan sekilas di atas, bisa kita tangkap fenomenanya. Contoh, kita gunakan model kesejahteraan paling akhir di bahas di atas, model PERMA. Hasil studi Sianipar et. al. (http://jurnal.untan.ac.id/index.php/jpdpb/article/viewFile/10685/10218) yang menemukan kecenderungan siswa yang mudah marah di SMK PGRI Pontianak. Jelas, ini berlawanan dengan model PERMA, P yang pertama positive emotion. Seharusnya kalau siswa di SMK PGRI Pontianak itu ingin dinilai memiliki kesejahteraan maka bukan marah-marah yang identik dengannya, melainkan rasa gembira, suka cita, penuh penghargaan. Itu di lingkungan sekolah. Misalnya lagi kasus ketidaksejahteraan di lingkungan keluarga, bisa dilihat di kompas (https://lifestyle.kompas.com/read/2015/06/30/151500123/Kasus. Perceraian.Meningkat.70.Persen.Diajukan.Istri) bahwa kasus perceraian meningkat lima tahun terakhir (data 2010-2014), dan 70% di antaranya diajukan istri dengan sebab-sebab ekonomi, masalah komunikasi, ketidakharmonisan seksual, dan pihak ketiga. Jelas kalau merujuk PERMA, ini tidak ada positive emotion, engagement, relationships, kehilangan meaning, dan accomplishment. Dan tentu saja, kasus keluarga seperti perceraian akan berdampak luas, tidak saja pasangan suami-istrinya, juga yang dikenai dampaknya adalah pihak keluarga besar dan terutama anak-anaknya. Dan, masih banyak lagi.

Kemana arah makalah ini? Makalah ini dari sejak awal diniatkan untuk mengungkap apa kesejahteraan dan hubungannya dengan kesehatan mental, agar nanti mudah membangunnya melalui bimbingan dan konseling; khususnya di sekolah dan keluarga. Mengapa sekolah dan keluarga? Sebab kasus-kasusnya sedang ramai di lingkungan sekolah dan keluarga. Terutama keluarga, sebagai fondasinya, pranata sosial terkecil sebuah bangsa. Kalau keluarga hancur, tidak menutup kemungkinan di sekolah (baik siswa maupun pendidiknya) terbawa tidak sejahtera. Namun perlu dicatat, makalah ini tidak muncul hanya sekedar karena kemunculan kasus yang menjadi fenomena, melainkan juga karena kita perlu, dan memang ada pergerakan pandangan-pandangan teoretis khususnya terkait bidang ilmu psikologi dan lebih spesifik bimbingan dan konseling yang lebih positif dan konstuktif orientasinya dalam memandang manusia dan kesejahteraan. Munculnya gerakan psikologi positif, perkembangan optimal manusia, maupun orientasi hidup dalam mendefinisikan kebahagiaan (misalnya, konsep quality of life yang juga akhir-akhir ini gencar dibahas). Artinya, merujuk pada model konsepsi tertentu tentang kesejahteraan mendorong lahirnya upaya-upaya yang perlu dilakukan untuk mengembangkannya; begitu juga apabila ada unsur-unsur, dimensi-dimensi, aspek-aspek, atau indikator yang muncul berlawanan dengan ekspektasi konsepsi kesejahteraan, maka perlu dilakukan juga upaya recovery-nya. Upaya recovery dalam konteks profesi bimbingan dan konseling tentu saja melalui model, pendekatan, strategi, taktik konseling tertentu; yang dalam hal ini kembali ke awal: bila kesejahteraan tidak tercapai, maka kesehatan mental terganggu; bila kesehatan mental terganggu, hadirlah konseling kesehatan mental (mental health counseling) untuk memunculkan keterampilan resiliensi dari kondisi terpuruk ke kondisi normal dan optimal. Lalu, makalah ini mengambil posisi membangun kesejahteraan dan kesehatan mental mulai dari dasar, yakni mengkaji perspektif filosofis tentang hakikat manusia.

Pembahasan 

Logika sederhana makalah ini adalah: jika ingin membangun sesuatu, kenalilah dulu apa yang akan dibangun; dengannya, kita bisa menentukan cara membangunnya. Konten pembahasan kali ini adalah tentang manusia dan kesejahteraan. Dengan logika yang sama, membangun kesejahteraan pada diri manusia tentu perlu diawali dengan mengenali siapa manusia itu; dengannya, kita bisa menentukan cara membangunnya (termasuk dalam menentukan model bimbingan dan konseling/konseling kesehatan mentalnya). Apakah nanti membangunnya di sekolah, atau di lingkungan keluarga dan masyarakat, jelas manusia perlu kita kenali. Enam model konsepsi-teoretis yang dikemukakan di awal juga itu merupakan upaya mengenali manusia dalam aspek kesejahteraannya; sehingga mudah cara mengembangkan dan atau memperbaikinya.

Hakikat Manusia: Makhluk Tuhan Yang Maha Esa

Dalam perjalanan hidupnya, manusia mulai mempertanyakan tentang asal-usul alam semesta dan termasuk tentang dirinya. Aliran filsafat klasik yang memberikan dua jawaban, yaitu evolusionisme dan kreasionisme. Evolusionisme menganggap manusia semata-mata hasil puncak mata rantai di alam semesta, berkembang tanpa pencipta. Sebaliknya, kreasionisme meyakini asal-usul manusia –sebagaimana halnya alam semesta– merupakan ciptaan suatu Creative Cause, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Evolusionisme, tentu kita tolak. Ada empat argumen filosofis: (1) argumen ontologis: semua manusia memiliki ide tentang Tuhan. Sementara itu, realitas (kenyataan) lebih sempurna daripada ide manusia. Oleh sebab itu, Tuhan pasti ada dan realitas ada-Nya itu pasti lebih sempurna daripada ide manusia tentang Tuhan; (2) argumen kosmologis: segala sesuatu yang ada mesti mempunyai suatu sebab. Adanya alam semesta –termasuk manusia– adalah sebagai akibat. Di alam semesta terdapat rangkaian sebab-akibat, namun tentunya mesti ada Sebab Pertama yang tidak disebabkan oleh lainnya. Sebab Pertama adalah sebab-sebab yang lainnya, tidak berada sebagai materi, melaikan sebagai “Pribadi” atau “Khalik”; (3) argumen teleologis: segala sesuatu memiliki tujuan (contoh: mata untuk melihat, kaki untuk berjalan dsb.). Oleh sebab itu, segala sesuatu (realitas) tidak terjadi dengan sendirinya melainkan diciptakan oleh Maha Pengatur tujuan-tujuan tersebut, yaitu Tuhan: (4) argumen moral: manusia bermoral, ia dapat membedakan perbuatan yang baik dan yang jahat, dsb. Ini menunjukkan adanya dasar, sumber dan tujuan moralitas, itulah Tuhan. Sebagai kesatuan badani-rohani manusia hidup dalam ruang dan waktu, memiliki kesadaran (consciousness) dan penyadaran-diri (self-awareness), memiliki berbagai kebutuhan, insting, nafsu, serta mempunyai tujuan. Manusia mempunyai potensi untuk beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan potensi untuk berbuat baik; namun di samping itu, karena nafsunya ia pun memiliki potensi untuk berbuat jahat (Syaripudin, 2017). Sampai di sini, tentu sulit dibantah, manusia adalah makhluk Tuhan Yang Maha Esa.

Manusia dan Agama 

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ver. 5.0, agama adalah ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dengan manusia, serta manusia dengan lingkungannya. Kemudian menurut kamus Cambridge, agama (religion) adalah “the belief in and worship of a God or gods, or any such system of belief and worship” (https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/religion). Agama adalah sistem, terdiri dari komponen struktural dan fungsional yang menjadi panduan dalam praktik-praktik peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Keberagamaan merupakan salah satu karakteristik esensial eksistensi manusia yang terungkap dalam bentuk pengakuan atau keyakinan terhadap kebenaran suatu agama yang diwujudkan dalam sikap dan perilakunya. Hal ini terdapat pada manusia manapun, baik dalam rentang waktu (dulu-sekarang-akan datang), maupun dalam rentang geografis dimana manusia berada. Seperti telah dipahami, manusia memiliki potensi untuk mampu beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Di lain pihak, Tuhan pun telah menurunkan wahyu melalui Utusan-utusan-Nya; dan telah menggelar tanda-tanda di alam semesta untuk dipikirkan oleh manusia agar (sehingga) manusia beriman dan bertaqwa kepada-Nya. Dalam keberagamaan ini manusia dapat merasakan hidupnya menjadi bermakna. Ia memperoleh kejelasan tentang asal-usulnya, dasar hidupnya, tata cara hidupnya, dan menjadi jelas pula ke mana arah tujuan hidupnya. Karena manusia “belum selesai” menjadi manusia, maka dirinya berupaya mengaktualisasikan dirinya melalui tujuan-tujuan hidupnya. Tujuan hidup manusia menurut M.I. Soelaeman (Syaripudin, 2017) tujuan hidup manusia mencakup tiga dimensi, yaitu: (1) dimensi ruang –(di sini – di sana; dunia-akhirat)–, (2) dimensi waktu (masa sekaran-masa datang), dan (3) dimensi nilai (baik – tidak baik). Adapun esensi tujuan hidup manusia tiada lain adalah untuk mencapai keselamatan/kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Landasan Agama pada Bimbingan dan Konseling 

Daripada berpolemik tentang makna religiusitas versus spiritualitas, makalah ini memilih konten sub-judul landasan agama penting pada penyelenggaraan layanan bimbingan dan konseling. Djawad Dahlan (2002) telah mensinyalir, dimensi transendental-keberagamaan cenderung “terabaikan” dalam pendekatan-pendekatan helping relationships seperti bimbingan dan konseling. Tentunya, dapat diprediksi apa yang akan terjadi pada saat suatu bidang keilmuan “kering” dari nilai-nilai transendental-keberagamaan hampa dari dimensidimensi spiritual dan kurang universal dalam kehidupan kemanusiaan. Untuk itu Peran agama sangat diperlukan pada profesi bimbingan dan konseling. Moh. Surya mengungkapkan, dikutip tahun 2000 (http://sarinovita21.blogspot.co.id/2013/06/ landasan-religius.html), bahwa salah satu tren bimbingan dan konseling saat ini adalah bimbingan dan konseling spiritual. Berangkat dari kehidupan modern dengan kehebatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemajuan ekonomi yang dialami bangsa-bangsa Barat yang ternyata telah menimbulkan berbagai suasana kehidupan yang tidak memberikan kebahagiaan batiniah dan berkembangnya rasa kehampaan. Dewasa ini sedang berkembang kecenderungan untuk menata kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai spiritual-keagamaan. Kondisi ini telah mendorong kecenderungan berkembangnya bimbingan dan konseling yang berlandaskan spiritual atau agama. Melalui pendekatan agama seorang konselor akan mampu mengatasi permasalahan apapun yang dihadapi konseli/siswanya. Karena agama mengatur segala kehidupan manusia, seperti mengatur bagaimana supaya hidup dalam ketentraman batin/jiwa atau dengan kata lain bahagia di dunia dan akherat. Ada beberapa peran agama dalam kesehatan mental, antara lain: (1) memberikan bimbingan dalam hidup; (2) aturan agama dapat menentramkan batin; (3) ajaran agama sebagai penolong dalam kebahagiaan hidup; (4) ajaran agama sebagai pengendali moral; (5) agama dapat menjadi terapi jiwa; dan (6) agama sebagai pembinaan mental (http://putriiwardhanii.blogspot.co.id/2012/10/ landasan-religius-dalam-dasar-dasar_8.html).

Yusuf mengutip Marsha Wiggins Frame (http://staffnew.uny.ac.id/upload/132310878/ pendidikan/landasan-religius-bk.pdf), mengemukakan agama sepatutnya mendapat tempat dalam praktek-praktek konseling atau psikoterapi. Alasannya: (1) para klien pada umumnya memiliki latar belakang agama yang membentuk sikap, keyakinan, perasaan dan tingkah laku, (2) terdapat tumpang tindih dalam nilai dan tujuan antara konseling dengan agama, untuk itu sudah selayaknya profesi konseling mengakui nilai-nilai agama klien dan konselor, sebagai upaya membantu individu agar dapat mengelola kesulitan atau masalah dalam hidupnya, (3) banyak bukti yang menunjukkan bahwa keyakinan beragama telah berkontribusi secara positif terhadap kesehatan mental, sehingga dimensi agama dalam kehidupan klien dapat menjadi alat bantu dalam upaya terapeutik, (4) agama sudah sepatutnya diintegrasikan ke dalam konseling dalam upaya mengubah pola pikir yang berkembang di akhir abad 20 yaitu mengintegrasian pendekatan psikoterapi (konseling) yang holistik/komprehensif, dan (5) bagi klien, keyakinan dan praktek beragama merupakan aspek fundamental dalam budayanya, bila konselor memperhatikan hal itu akan meningkatkan efektifitas kinerja konselor. Untuk itu, konselor dituntut agar memiliki pemahaman tentang hakikat manusia menurut agama dan peran agama dalam kehidupan umat manusia serta dapat memenuhi persyaratan sebagai konselor yang profesional.

Contoh: Islam dan Kesejahteraan pada Pelayanan Bimbingan dan Konseling Kesehatan Mental (dalam konteks pribadi di sekolah dan keluarga)

Tidak diragukan lagi bahwa prinsip agama Islam yang wajib diketahui dan diamalkan oleh setiap muslim ada tiga, yaitu: (1) mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala; (2) mengenal agama Islam beserta dalil-dalilnya; dan (3) mengenal Nabi-Nya, Muhammad Shollallahu alaihi wa salam (Jawas, 2016). Melalui ketiganya, bagi seorang muslim adalah jalan keselamatan, baik untuk kehidupan di dunia maupun di akhirat. Makalah ini tidak akan detil membahas Islam secara mendalam, uraian berikutnya akan fokus pada makna kesejahteraan versi agama Islam.

Mengutip tulisan Aam Imadudin (2016) istilah kesejahteraan di dalam Al-Qur’an diwakili dengan istilah salaam, setidaknya makna sejahtera yang menggunakan kata salaam terdapat di dalam  tujuh surat, diantaranya QS. Al-Hasyr Ayat 23, QS. Al-Hijr Ayat 46, QS. Yunus Ayat 10, QS. Huud Ayat 48, QS. Ibrahim Ayat 23, QS. An-Nahl Ayat 32, dan QS. Al-Qolam Ayat 43. As-Salaam merupakan salah satu dari nama-nama Allah yang baik (Asmaul Husna), yang bermakna yang Maha Sejahtera. Secara ringkas, berikut beberapa hal yang dapat diambil dari tulisan Aam Immadudin tentang kesejahteraan tersebut: (1) sejahtera berarti terbebas dari bencana dan aman dari malapetaka; (2) bebas dari api neraka; (3) kebiasaan mensucikan Allah (mengucapkan SubhanAllaah); (4) senantiasa memaksakan diri untuk beribadah kepada Allah; (5) kondisi individu ketika mampu selalu bersyukur. Mungkin kajian tentang makna kesejahteraannya belum lengkap, namun sekilas dari kelima poin tersebut saja sudah menggambarkan pentingnya mewujudkan praktik-praktik keberagamaan bagi seorang muslim dengan menjalankan agama Islam secara utuh. Artinya, kesejahteraan dan kesehatan mental di dalamnya akan diperoleh seseorang ketika dia berhasil secara utuh, memahami, melaksanakan, mendakwahkan, dan bersabar dalam menjalankan tuntunan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui risalah Nabi-Nya, Muhammad Shollallahu alaihi wa salam. Ini jugalah yang menjadi persyaratan konselor (beragama) Islam yang akan menangani konselinya, baik di sekolah, maupun di lingkungan keluarga-keluarga yang ada di masyarakat.

Dikarenakan keterbatasan waktu penulisan makalah ini, berikut direkomendasikan sejumlah sumber tulisan dari buku “Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam Tazkiyatun Nufus” tulisan Yazid Abdul Qadir Jawas (2017); “Psikologi Qurani” tulisan Dr. Adnan Syarif (2002), “Psikologi Nabi” tulisan Dr. Muhammad ‘Utsman Najati (2005), dan untuk kehidupan pribadi di sekolah dan keluarga melalui buku “Inspirasi dari Rumah Cahaya, tulisan Budi Ashari, Lc. (2015) yang semuanya bisa menjadi dasar bagi pengembangan layanan bimbingan dan konseling untuk membangun kesejahteraan di sekolah dan keluarga termasuk strategi dalam melakukan konseling kesehatan mental. Salah satu yang paling sederhana membangun potensi kesejahteraan muncul dapat diperoleh dengan cara Tarbiyah Ruhiyah yang intensif perlu dilatihkan sebagai berikut: (1) mu’ahadah, mengingat perjanjian misalnya dengan mengingat kalimat “Hanya kepada Engkau kami beribadah dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan”. QS. (Al-Fatihah: 5); (2) muraqabah, merasakan kesertaan Allah. Landasannya, “Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk shalat) dan melihat pula perubahan gerak badannya diantara orang-orang yang sujud”. (Asy-Syu’ara: 218-219); (3) muhasabah, instrospeksi diri. Landasannya, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Al-Hasyr: 18); (4) mu’aqobah, memberi sanksi. Landasannya, “Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, wahai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa”. (Al-Baqarah: 179); (5) mujahaddah, optimalisasi. Landasan: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”.(Al-Ankabut: 69).

Masih banyak yang bisa digali dari agama Islam, yang dapat dijadikan dasar penyelenggaraan bimbingan dan konseling termasuk konseling kesehatan mental dalam rangka mewujudkan kesejahteraan invididu baik di sekolah, keluarga maupun masyarakat pada umumnya. Tulisan ini, akhirnya berujung pada ajakan, ajakan yang juga sama ditujukan bagi penulis agar bersama-sama lebih baik dalam mempraktikan agama dengan dasar pemahaman yang benar. Sehingga, praktik penyelenggaraan bimbingan dan konseling serta konseling kesehatan mental untuk mewujudkan kesejahteraan tidak lagi hanya mengandalkan serangkaian teknik yang “kering” dari nilai-nilai spiritual-religiusitas-keagamaan.

Kesimpulan (sementara)

Urgensi kesejahteraan atau “well-being” tidak dapat diabaikan pada diri individu baik di lingkungan sekolah maupun keluarga. Pencapaian level kesejahteraan seseorang menentukan kualitas kesehatan mentalnya. Jika kesejahteraan seseorang baik, maka kesehatan mentalnya juga baik: di sinilah perlu beragam upaya mengembangkannya melalui upaya-upaya pendidikan dan bimbingan; jika kesejahteraan seseorang buruk, maka kesehatan mentalnya juga terganggu, di sinilah perlu beragam upaya konseling kesehatan mental yang mampu meningkatkan keterampilan resiliensi-nya. Pada dasarnya, kesejahteraan melibatkan konstelasi unsur-unsur keutuhan individu sebagai manusia. Konsep-konsep kesejahteraan yang minim mempertimbangkan unsur spiritualitas-keagamaan perlu memperoleh pengembangan dan penguatan mulai dari sejak tataran filosofis dalam memandang hakikat manusia. Melalui kerangka pikir bahwa manusia sebagai makhluk Tuhan, dan Tuhan telah memberikan panduan bagi manusia itu; maka sesungguhnya konsepsi itu telah memberikan kesejahteraan sebuah bentuk dan arah kemana harus ditumpukan dan diwujudkan. Peran bimbingan dan konseling termasuk di dalamnya konseling kesehatan mental, dapat diselenggarakan untuk memperbaiki, mempertahankan, dan membangun kesejahteraan individu, baik di sekolah maupun bekerja sama dengan keluarga dan seluruh anggotanya sebagai bagian dari warga masyarakat, dan dilakukan melalui pemanfaatan konsep-konsep fitrah kemanusiaan sebagai makhluk Tuhan, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akhirnya tentu, bukan saja kesejahteraan di dunia yang ingin diraih, melainkan juga kesejahteraan di akhirat – pasca kematian, pemutus kenikmatan dunia. Insya Allah. Aamiin.

Referensi

Wikipedia

Beberapa situs yang tertera di makalah

Beberapa buku yang terkutip

Tambahan Inspirasi Meraih Kesejahteraan dan Kesehatan Mental 

Tujuh Wasiat Nabi Muhammad ﷺ kepada Abu Dzarr al-Ghifari ra.

Abu Dzarr al-Ghifari ra berkata, “Kekasihku (Rasulullah) saw berwasiat kepadaku dengan tujuh hal: (1) supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka, (2) beliau memerintahkan aku agar melihat kepada orang yan gberada di bawahku dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasku, (3) beilau memerintahkan agar aku menyambung silaturahim meskipun mereka berlaku kasar kepadaku, (4) dianjurkan agar aku memperbanyak ucapan ‘Laa Haulaa walaaa Quwwata illaa billaah’ (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah). (5) aku diperintahkan untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit, (6) beliau berwasiat agar aku tidak taut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, dan (7) beliau melarang aku agar tidak meminta-minta sesuatu kepada manusia.”

Wasiat Nabi ﷺ kepada sahabat Ibnu ‘Abbas ra.

“Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: ‘Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, maka engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau memohon (meminta), mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan pada Allah. Ketahuilah, bahwa seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberi suatu manfaat kepadamu, maka mereka tidak dapat memberi manfaat kepadamu, kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah untukmu. Sebaliknya, jika mereka berkumpul untuk menimpakan suatu kemudharatan (bahaya) kepadamu, maka mereka tidak akan dapat menimpakan kemudharatan kepadamu, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.”

 

Era Digital, Etalase Maya vs Realita

Rame hoaks di Indonesia bukan hal aneh. Wajar. Sekarang informasi tidak dikuasai oleh satu-dua media. Di tangan masing-masing orang per-orang, bukan saja dapat digunakan secara pasif untuk sekedar menerima informasi, tapi juga bisa dijadikan tempat memproduksi. Entah benar atau tidak isinya, tergantung kredibilitas pembuat informasi.

https://assets.entrepreneur.com/content/3×2/1300/20150318102123-shutterstock-182769413.jpeg?width=700&crop=2:1

Ada yang mengatakan teknologi informasi dan komunikasi di era digital ini posisinya tetap, yaitu sebagai tools for working saja. Namun ada juga yang beranggapan berbeda, bahwa saat ini teknologi informasi berbasis koneksi internet juga sebagai bisa sebagai added-value. Contoh, orang jualan makanan, sekarang tidak hanya fokus pada rasa dan tampilan makanan yang dijual, tapi juga mempertimbangkan penawaran kemudahan akses internet sebagai daya tawar/nilai tambah (added-value).

Karena pola pikir value inilah, orang sudah harus lebih berhati-hati melahirkan jejak digital. Value seseorang bisa hancur gara-gara sembarangan membuat jejak digital. Bisa heboh, karena istilahnya sekarang adalah “You are what you wrote”, atau “Your personality is your status” dan lain sebagainya yang menunjukkan profil diri kita dapat dilihat dari update status-status di yang dibuat di medsos. Bahkan, lagi rame saat ini seorang politisi muda dianggap tidak konsisten karena menghapus status twitter-nya terkait politisi senior karena merasa “tidak enak”.

Tampilan di internet, atau yang disebut web adalah etalase, apalagi baik bagi orang per-orang, maupun bagi sebuah institusi. Web bisa jadi added-velue tool. Betapa tidak, hampir bisa dikatakan umumnya, orang mencari informasi, apapun, ya via web. Bahkan wajar, sekarang ada istilah web-based personal branding (pencitraan berbasis web). Seseorang bisa membuat profil diri atau institusi di dunia maya sangat bagus, bahkan kadang bisa sangat berjauhan dengan aslinya, jauh dari realita. Ada juga jadi rame pasar aktivasi SEO (search engine optimazer) agar apa yang dicari di google bisa muncul di halaman awal.

Yang benar adalah “satukan kata dengan perbuatan”, dengan kalimat lain, “tampilkan diri di web, sesuai dengan realitanya”. Itulah yang disebut kredibel. Bisa dipercaya. Artinya, terutama bagi sebuah institusi, web adalah nilai tambah untuk menampilkan dirinya secara terbuka dan informatif. Jejak aktivitas realita, harus bisa dibaca, dibuktikan melalui jejak digital. Sekarang, orang mengatakan ya atau tidak pada sebuah kebenaran data, cara sederhana yang dilakukannya adalah dengan menghubunggi “Om google”, via web. Bisa saja sebuah institusi banyak kegiatan ini-itu, tapi tanpa jejak digital, maka aktivitas itu jadi asap, tertiup angin dan hilang begitu saja. Jangankan informasi yang sifatnya berita, sebuah kegiatan bisa minim keterlibatan karena tidak tahu agenda, pengumuman atau pemikiran-pemikiran yang harusnya bisa di-share untuk diketahui, jadi tidak diketahui bagi orang yang berhak. Masalah tampilan web, ya itu mah tergantung budget, tampilan sederhana seperti google saja yang hanya ber-background putih polos bisa sangat sering dikunjungi karena saking informatifnya.

Semoga, perhatian kita terhadap era digital ini bisa diambil positifnya, tidak bisa diabaikan. Tinggal bagaimana mengelolanya saja, agar etalase maya sesuai dengan realita.

 

Menanggapi Cuitan dr. Jiemi Ardian tentang PAUD

Ini tanggapan setelah baca cuitan dr. Jiemi Ardian. Judulnya “PAUD itu bukan pendidikan anak, PAUD itu bisnis atas nama pendidikan anak. Berikut cuitan-cuitannya.

Itu cuitan awalnya sangat tidak sensitif, dan cenderung emosional.

Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1, pasal 1, butir 14 dinyatakan bahwa “Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan ruhani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut”.

Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.

Jadi, terkait cuitan dr. Jiemi, terpaksa harus direspon, terutama terkait hal-hal berikut.
(1) Lihat undang-undang, disain formal penyelenggaraan program, tentu, PAUD tidak diniatkan bisnis.
(2) Jelas, PAUD tidak diperuntukkan agar anak bisa calistung.
(3) Logika menggunakan teori Piaget itu juga tidak bertentangan dengan tujuan penyelenggaraan PAUD, lihat usianya. Itu juga baru teori Piaget, masih banyak celah. Makanya ada teori-teori lain yang juga perlu dibaca.
(4) Guru PAUD, yang benar, lahir dan diajarkan teori-teori pendidikan anak; dan belajar di institusi yang dibangun atas dasar naskah akademik hasil kajian, baik teoretik maupun riset. Ada prodi/departemen/jurusan PAUD baik di lembaga fakultas ilmu pendidikan umum maupun tarbiyah ke-Islaman. Calon-calon guru PAUD tersebut belajar bukan hanya, calistung.
(5) “Anak < 4 tahun ga (akan) paham tentang tugas?” Tugas apa dulu, think again.. “..belajar tentang tanggung jawab baru di usia ini (7 tahun)” Think again.
(6) Perkara mau memasukan anak ke PAUD atau tidak, itu tergantung orang tua. Ada banyak jenis orang tua. Ada orang tua yang sudah cukup paham pendidikan anak, ada juga yang kurang paham. AUD adalah masa keemasan (golden age), perlu pendidikan yang tepat. Bayangkan anak itu dididik oleh orang tua yang kurang pemahaman pendidikan anak, dan atau dititip ke sembarang orang. Lagi pula yang kurang paham itu juga, dan atau yang memiliki konsep/pilihan lain menitipkan anaknya di PAUD, ya itu haknya dan pasti atas pertimbangan tertenu. Tidak perlu mengaitkan dengan bisnis dan menghukumnya sebagai kegiatan bisnis.
(7) Data cuitan dr. Jiemi tidak nyambung, terlalu umum, menggeneralisir, dan cenderung emosional.
(8) Kecuali, dr. Jiemi menemukan PAUD yang menyimpang dan pernah punya pengalaman kasuistik yang buruk berhubungan dengan PAUD, wajar. Tapi, bukan juga berarti semua PAUD itu berorientasi bisnis. Kenyataannya semua lembaga pendidikan yang diinstitusikan butuh biaya, bukan berarti juga itu bisnis. Lihat gaji guru PAUD, miris. PAUD adalah upaya yang harus dijaga kualitasnya. Jadi inget Wagub Jakarta yang memprioritaskan gaji guru PAUD di Jakarta.

Semoga kita lebih dalam membaca tentang sesuatu, apalagi sebelum menyatakan sejumlah pernyataan yang, apalagi bukan dari bidangnya.

Selamat bagi para orang tua yang sudah memiliki kesadaran utuh tentang bagaimana cara mendidik anaknya, semoga tugas mulia yang diemban itu bisa terlaksana dengan baik, melahirkan generasi yang sholeh.

Seperti Abdullah Ibnu Abbas misalnya, yang ketika Rasulullaah wafat usianya 13 tahun, dan kita menerima banyak pesan dan gambaran utuh unsur-unsur praktik dan nasihat keagamaan sehari-hari kita melalui beliau.

Wallahu’alam.

Begin with The End in Mind (Mulai dari Tujuan Akhir)

Begin with the End in Mind (Mulai dari Tujuan Akhir) adalah kebiasaan nomor dua dari Tujuh Kebiasaan Manusia Efektif (7 Habits of Highly Effective People) racikan Stephen Covey yang paling saya selalu latih-aplikasi-sharing-kan dalam kehidupan. Di antara keenam kebiasaan lain, kebiasaan nomor dua ini memberikan arah, navigasi dan kontrol atau pengawasan terhadap setiap tindak tanduk kita dalam menjalani kehidupan, kehidupan yang efektif.

http://www.hrhwalls.com/reimg/image.php?src=http://img.hrhwalls.com/images178/z22ftbssirr.jpg&h=450&w=728

Pertanyaan sederhana yang menjelaskan kebiasaan nomor dua ini, misalnya: “what do you wanna to be when you grow up?” (mau menjadi apa nanti ketika kamu dewasa?). Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi maknanya sangat penting bagi perjalanan kehidupan orang yang ditanya; sesuai dengan jawabannya. Misalnya, jawabannya adalah menjadi seorang guru. Maka dalam proses menjalankan aktivitas kehidupannya, orang yang menyatakan jawaban tersebut harus – mau tidak mau – jika benar itu jawabannya, maka dirinya harus melalui jalan yang mengarah pada keinginannya menjadi seorang guru; tidak pada jalan lain.

Pada contoh sederhana di atas, jelas sekali bahwa kebiasaan nomor dua ini (begin with the end in mind) memberikan gambaran yang berangkat dari imajinasi pikiran. Kebiasaan ini melatih diri untuk selalu memikirkan target akhir dalam sebuah tindakan. Asumsi yang menopang kebiasaan ini adalah, bahwa setiap hasil karya manusia selalu terjadi pada dua tingkatan. Tingkatan pertama adalah tingkat imajinasi pikiran (mental creation), dan tingkatan kedua adalah tingkatan perwujudan (physical creation). Pada tingkatan pertama inilah, kebiasaan kedua ini menjadi penting, sebab kejelasan dan kejernihan pikiran untuk menggambarkan tujuan akhir akan mendorong lahirnya tingkat kedua, perwujudan tindakan. Sehingga setiap tindakan kita, menjadi fokus dan terarah pada satu tujuan yang telah ditentukan. Wajar kalau Stephen Covey menyebutnya sebagai sebuah Misson Statement (pernyataan misi). Seperti layaknya sebuah misi, harus dilaksanakan hingga tuntas (accomplished). Kejelasan (clarity) sebuah misi menjadi sangat penting sebab melahirkan rencana tindakan, dan sejumlah strategi yang efektif untuk mencapainya. Kejelasan ini juga menjadi hal penting dan utama sebagai the first C dalam the 10 keys to Success yang dibahas Brian Tracy.

(more…)

The Profile of Critical Consciousness of Indonesia University of Education Students’ on Educational Phenomenon (A Phenomenological Study of Paulo Freire’s Pedagogy)

title:
The Profile of Critical Consciousness of Indonesia University of Education Students’on Educational Phenomenon (A Phenomenological Study of Paulo Freire’s Pedagogy)
publication:
part of series:
Advances in Social Science, Education and Humanities Research
ISBN:
978-94-6252-299-2
ISSN:
2352-5398
DOI:
doi:10.2991/nfe-16.2017.12 (how to use a DOI)
author(s):
Babang Robandi, Dharma Kesuma, Arie Rakhmat Riyadi, Teguh Ibrahim
corresponding author:
Babang Robandi
publication date:
February 2017
keywords:
Critical Consciousness, Conscientization, Phenomenology, Foundation of Education, Paulo Freire’s Pedagogy
abstract:
This paper aims to discuss the phenomenon of Critical Consciousness of Indonesia University of Education Students’ on Educational Phenomenon. Critical consciousness is characterized by a critical understanding on issues of education, reasoning causality in the cause of education, transformative power of social action (praxis) and moral reasoning in fighting for the values of kindness. The method that used by this research is a transcendental phenomenology, the phenomenon of critical consciousness raised through conscientization based learning, then deepened through interviews with several students. This research has significance for mental revolution program in education launched by the Indonesian government. This study proved theoretically and practically about the profile of student or youth who have a critical consciousness.
copyright:
© Atlantis Press. This article is distributed under the terms of the Creative Commons Attribution License, which permits non-commercial use, distribution and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited.
full text:

http://www.atlantis-press.com/php/paper-details.php?from=author+index&id=25870237&querystr=authorstr%3DR

 

View Fullscreen

Pengembangan Alat Ukur Kematangan Karier Siswa Sekolah Menengah Atas

bisa ditemukan sumbernya di

http://ejournal.umm.ac.id/index.php/jipt/article/view/3837

View Fullscreen

Negara Gaduh dan Keberpihakan Media

Siapa tidak kenal Ahok. Negara Indonesia yang kita cintai gaduh gara-gara mulutnya. Terakhir terkait pernyataannya yang melecehkan ulama, K.H. Ma’ruf Amin. Gaduh negara ini. Pemerintah terlihat berkonsentrasi penuh terhadap Ahok, daripada fokus menyejahterakan rakyatnya. Ya, minggu ini negara gaduh, sangat.

Kenapa media, lihat saja judul, isi, bahkan frekuensi keberpihakan sejumlah media besar terhadap Ahok. Contoh kecil, lihat youtube trending. Isi youtube trending cenderung berpihak pada Ahok juga. Siapa di balik Ahok? Tentu orang kuat. Orang elit global. Segelintir orang yang punya kepentingan, bukan untuk kesejahteraan rakyat Indonesia.

Tidak heran kalau sekarang orang-orang lari membaca medsos. Walaupun medsos berpotensi hoax, tapi tidak jarang media besar juga menyebar hoax. Yang heran adalah, sudah terbuka informasi kebenaran yang tersebar di medsos, tapi pemerintah tutup mata. Gila kan, ketika seseorang melakukan kejahatan, mengatakan kebenaran versinya, padahal semua orang sudah tahu bahwa itu tidak benar dan tahu kebenaran aslinya.

Hikmah di balik negara gaduh dan keberpihakan media adalah semakin jelasnya posisi orang. Orang yang berpihak pada kebenaran, dan ada orang-orang yang berpihak pada kepentingan dirinya. Orang lupa diri. Tapi memang ada juga orang yang larut terbawa propaganda media, sehingga dengan kepolosannya dia terjerumus pada kelompok yang salah. Anehnya, ada juga kalangan orang berpengatahuan, atau intelek, tapi jelas juga keberpihakannya bukan pada kebenaran, tapi pada ego.

Akhirnya, kita harus selalu terus waspada. Memohon perlindungan dan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala atas semua yang telah, sedang dan akan terjadi di kemudian hari di negeri tercinta kita, Indonesia.

#CatatanAkhirPekan

 

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.