Home » Bimbingan dan Konseling

Category Archives: Bimbingan dan Konseling

© Arie Rakhmat Riyadi.
Dec 2015.
All Rights Reserved.

Arsip

November 2021
M T W T F S S
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Ingin Stabil Kesehatan Mental (Mental Health), Raihlah Kesejahteraan (Well-Being) Hidup: Versi Tuntunan Agama

Tulisan ini adalah bagian dari makalah yang dipaparkan pada seminar internasional bertajuk The Innovative Counseling Conference di kampus Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya, 9-10 Maret 2018 lalu.

Saya kebagian peran sebagai Keynote Speaker di hari kedua dengan judul “Membangun Kesejahteraan dan Kesehatan Mental di Sekolah dan Keluarga”, begitulah judul yang diberikan panitia. Peran lain yang saya emban pada kegiatan tersebut adalah sebagai Trainer pada Workshop dengan judul “Aplikasi Hipnosis dalam Konseling (Hypnotic Counseling)”.

Nah, yang diuraikan di sini adalah tulisan sebagai Keynote Speaker. Tulisan ini adalah tulisan curhat, bahasanya tidak formal. Referensi juga tidak ngakademis formal. Bahkan tulisan yang dibagikan ke peserta melalui panitia, kelihatannya masih belum tuntas. Ya begitulah, kalau serba mepet, untung saja tidak sampe ngepet.

http://anubhavsrivastava.com/2016/01/03/happiness-is-true-success/

 

Judul yang formal di makalah seminar, kurang lebih kalau dirubah judulnya ya jadi seperti di atas “Ingin Stabil Kesehatan Mental (Mental Health), Raihlah Kesejahteraan (Well-Being) Hidup: Versi Tuntunan Agama”. Dari judul juga sudah jelas ya, arahnya bakal kemana. Ya dari pada tulisan ini tersimpan di hardisk percuma, mending melalui media ini bisa diarsipkan sekaligus berharap menuai manfaat bagi para pembaca yang kebetulan ditakdirkan Allah mampir.

Selamat membaca.

Abstrak

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran alternatif upaya membangun kesejahteraan dan kesehatan mental di sekolah dan keluarga. Hal tersebut dianggap penting dan mendesak sebab fenomena yang muncul terkait dengannya akhir-akhir ini secara faktual memerlukan perhatian yang serius, baik dari pemerintah maupun masyarakat, terutama lembaga pendidikan lebih khususnya lagi adalah peran dari konselor atau guru bimbingan dan konseling di sekolah. Pada makalah ini diuraikan logika penulis secara naratif-deskriptif yang dikonfirmasi dengan sejumlah kajian teoretik mencakup sekilas batasan-batasan dan relasi-relasi konseptual antara istilah kesejahteraan dan kesehatan mental, ringkasan sejumlah ulasan teoretik tentang konstruk kesejahteraan dan kesehatan mental, dilanjutkan dengan mengkaji sifat dasar manusia sebagai landasan bagi alternatif perancangan bentuk-bentuk usaha mengembangkan kesejahteraan dan kesehatan mental individu baik di sekolah maupun di keluarga terutama melalui peran strategis profesi bimbingan dan konseling.

Kata kunci: kesejahteraan, kesehatan mental, sekolah, keluarga, sifat dasar manusia, serta bimbingan dan konseling.

(more…)

Begin with The End in Mind (Mulai dari Tujuan Akhir)

Begin with the End in Mind (Mulai dari Tujuan Akhir) adalah kebiasaan nomor dua dari Tujuh Kebiasaan Manusia Efektif (7 Habits of Highly Effective People) racikan Stephen Covey yang paling saya selalu latih-aplikasi-sharing-kan dalam kehidupan. Di antara keenam kebiasaan lain, kebiasaan nomor dua ini memberikan arah, navigasi dan kontrol atau pengawasan terhadap setiap tindak tanduk kita dalam menjalani kehidupan, kehidupan yang efektif.

http://www.hrhwalls.com/reimg/image.php?src=http://img.hrhwalls.com/images178/z22ftbssirr.jpg&h=450&w=728

Pertanyaan sederhana yang menjelaskan kebiasaan nomor dua ini, misalnya: “what do you wanna to be when you grow up?” (mau menjadi apa nanti ketika kamu dewasa?). Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi maknanya sangat penting bagi perjalanan kehidupan orang yang ditanya; sesuai dengan jawabannya. Misalnya, jawabannya adalah menjadi seorang guru. Maka dalam proses menjalankan aktivitas kehidupannya, orang yang menyatakan jawaban tersebut harus – mau tidak mau – jika benar itu jawabannya, maka dirinya harus melalui jalan yang mengarah pada keinginannya menjadi seorang guru; tidak pada jalan lain.

Pada contoh sederhana di atas, jelas sekali bahwa kebiasaan nomor dua ini (begin with the end in mind) memberikan gambaran yang berangkat dari imajinasi pikiran. Kebiasaan ini melatih diri untuk selalu memikirkan target akhir dalam sebuah tindakan. Asumsi yang menopang kebiasaan ini adalah, bahwa setiap hasil karya manusia selalu terjadi pada dua tingkatan. Tingkatan pertama adalah tingkat imajinasi pikiran (mental creation), dan tingkatan kedua adalah tingkatan perwujudan (physical creation). Pada tingkatan pertama inilah, kebiasaan kedua ini menjadi penting, sebab kejelasan dan kejernihan pikiran untuk menggambarkan tujuan akhir akan mendorong lahirnya tingkat kedua, perwujudan tindakan. Sehingga setiap tindakan kita, menjadi fokus dan terarah pada satu tujuan yang telah ditentukan. Wajar kalau Stephen Covey menyebutnya sebagai sebuah Misson Statement (pernyataan misi). Seperti layaknya sebuah misi, harus dilaksanakan hingga tuntas (accomplished). Kejelasan (clarity) sebuah misi menjadi sangat penting sebab melahirkan rencana tindakan, dan sejumlah strategi yang efektif untuk mencapainya. Kejelasan ini juga menjadi hal penting dan utama sebagai the first C dalam the 10 keys to Success yang dibahas Brian Tracy.

(more…)

Pengembangan Alat Ukur Kematangan Karier Siswa Sekolah Menengah Atas

bisa ditemukan sumbernya di

http://ejournal.umm.ac.id/index.php/jipt/article/view/3837

[pdfjs-viewer url=”http%3A%2F%2Farierakhmatriyadi.staf.upi.edu%2Ffiles%2F2017%2F03%2FPengembangan-Alat-Ukur-Kematangan-Karier-Siswa-SMA.pdf” viewer_width=100% viewer_height=1360px fullscreen=true download=true print=true]