Home » Ide Pop-up

Category Archives: Ide Pop-up

© Arie Rakhmat Riyadi.
Dec 2015.
All Rights Reserved.

Arsip

November 2021
M T W T F S S
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Begin with The End in Mind (Mulai dari Tujuan Akhir)

Begin with the End in Mind (Mulai dari Tujuan Akhir) adalah kebiasaan nomor dua dari Tujuh Kebiasaan Manusia Efektif (7 Habits of Highly Effective People) racikan Stephen Covey yang paling saya selalu latih-aplikasi-sharing-kan dalam kehidupan. Di antara keenam kebiasaan lain, kebiasaan nomor dua ini memberikan arah, navigasi dan kontrol atau pengawasan terhadap setiap tindak tanduk kita dalam menjalani kehidupan, kehidupan yang efektif.

http://www.hrhwalls.com/reimg/image.php?src=http://img.hrhwalls.com/images178/z22ftbssirr.jpg&h=450&w=728

Pertanyaan sederhana yang menjelaskan kebiasaan nomor dua ini, misalnya: “what do you wanna to be when you grow up?” (mau menjadi apa nanti ketika kamu dewasa?). Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi maknanya sangat penting bagi perjalanan kehidupan orang yang ditanya; sesuai dengan jawabannya. Misalnya, jawabannya adalah menjadi seorang guru. Maka dalam proses menjalankan aktivitas kehidupannya, orang yang menyatakan jawaban tersebut harus – mau tidak mau – jika benar itu jawabannya, maka dirinya harus melalui jalan yang mengarah pada keinginannya menjadi seorang guru; tidak pada jalan lain.

Pada contoh sederhana di atas, jelas sekali bahwa kebiasaan nomor dua ini (begin with the end in mind) memberikan gambaran yang berangkat dari imajinasi pikiran. Kebiasaan ini melatih diri untuk selalu memikirkan target akhir dalam sebuah tindakan. Asumsi yang menopang kebiasaan ini adalah, bahwa setiap hasil karya manusia selalu terjadi pada dua tingkatan. Tingkatan pertama adalah tingkat imajinasi pikiran (mental creation), dan tingkatan kedua adalah tingkatan perwujudan (physical creation). Pada tingkatan pertama inilah, kebiasaan kedua ini menjadi penting, sebab kejelasan dan kejernihan pikiran untuk menggambarkan tujuan akhir akan mendorong lahirnya tingkat kedua, perwujudan tindakan. Sehingga setiap tindakan kita, menjadi fokus dan terarah pada satu tujuan yang telah ditentukan. Wajar kalau Stephen Covey menyebutnya sebagai sebuah Misson Statement (pernyataan misi). Seperti layaknya sebuah misi, harus dilaksanakan hingga tuntas (accomplished). Kejelasan (clarity) sebuah misi menjadi sangat penting sebab melahirkan rencana tindakan, dan sejumlah strategi yang efektif untuk mencapainya. Kejelasan ini juga menjadi hal penting dan utama sebagai the first C dalam the 10 keys to Success yang dibahas Brian Tracy.

(more…)

Kompetensi vs Penilaian vs Waktu Penyelengaraan Pendidikan Formal

Gampang lulus, itu citra salah satu prodi yang menurut mahasiswanya sendiri, kuliah tidak usah terlalu serius, nanti juga lulus bareng-bareng.

kompetensi

Kenyataan yang terungkap dari mahasiswa tersebut menegaskan bahwa memang kuliah yang dijalaninya selain tidak serius, juga ada masalah dalam hal evaluasi, khususnya penilaian tentang pencapaian kompetensi yang harus dikuasainya.

Seorang pendidik, tentu memiliki tujuan dalam menyelenggarakan proses pendidikannya. Selain menyesuaikan disain pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikannya, pendidik juga harus mengukur keberhasilan apa yang dibelajarkannya pada anak didiknya melalui penilaian.

Tujuan utama penilaian adalah untuk mengetahui sampai dimana penguasaan anak didik terhadap apa yang dipelajarinya. Penilaian memberikan feedback. Selain itu, tujuan lain dari penilaian adalah untuk menyatakan posisi keberadaan peserta didik, apakah dirinya telah menguasai kompetensi yang ditargetkan pendidik atau belum. Bila ternyata diketahui dirinya belum menguasai kompetensi yang ditargetkan, maka posisinya berada pada istilah yang dikenal “tidak lulus”. Bila diketahui telah menguasai kompetensi yang ditargetkan, maka yang bersangkutan dinyatakan “lulus”.

Istilah “lulus” dan “tidak lulus”, mungkin dianggap terlalu “kasar”, sebab hanya terdiri dari dua kategori posisi anak didik setelah pembelajaran. Maka, dibuatlah kategori yang lebih “halus” ada, A, B, C, D, E, atau A, A-, B+, B, B- dan seterusnya, dan kategori “halus” lainnya. Jadi, lulus itu kategorinya banyak. A lulus, pasti. B dan C juga lulus, bahkan D sebenarnya irisan dari kategori lulus. Di sinilah persoalan muncul, ujungnya “lulus” dan “tidak lulus”. Lulus, menyatakan capaian kompetensi anak didik telah tercapai. Tidak lulus, anak didik belum menguasai tujuan pendidikan (baca, lingkup lebih kecil, pembelajaran) yang ditargetkan. Dan, kita bisa juga menyatakan siswa/mahasiswa lulus, padahal belum tentu kompeten pada kompetensi yang ditargetkan. Dengan bahasa umum, sering dikatakan “yang penting lulus, nanti kan gak akan ditanya lulus nilainya gimana? skripsi/tesis/disertasinya apa? IPK berapa? Mungkin IPK cukup pentinglah, perusahaan atau tempat kerja selalu meminta batas minimal IPK tertentu. Tapi, umumnya, kan yang penting “lulus”…

pass-fail

Kalau kurikulumnya berbasis kompetensi, sedangkan kompetensi adalah suatu kemampuan untuk melaksanakan atau melakukan sesuatu atau tugas yang dilandasi atas keterampilan dan pengetahuan serta didukung oleh sikap yang dituntut oleh pekerjaan tersebut, maka bila seseorang dinyatakan pada kategori “tidak lulus” harusnya dia ulang terus belajarnya, sampai benar-benar memenuhi kompetensi yang ditargetkan. Jadi kalau seseorang tidak memenuhi kriteria kompetensi yang ditargetkan, ya jangan diluluskan.

Muncullah, ketuntasan minimal, atau seseorang disebut lulus minimal segini-segitu. Namanya juga minimal, itu kerangka pikir pesimistis. Standar, adalah ukuran minimal. Ceritanya begitu. Jadi ukurannya sebenarnya relatif. Bagi seseorang sebuah standar, belum tentu menjadi standar orang lain. Setuju tidak setuju, jadilah standar, sesuatu yang harus dicapai sebagai kriteria kelulusan. Sama saja, kalau misalnya seseorang katakanlah berhasil melewati standar, berarti dia lulus. Dan kalau misalnya seseorang masuk kategori tidak lulus, harusnya mengulang, sampai lulus tercapai.

Nah, membuat seseorang tidak berada pada kategori tidak lulus ada sejumlah pertimbangan ternyata. Misalnya, seorang mahasiswa yang skripsinya jeleknya minta ampun, yang idealnya tidak lulus, terpaksa harus lulus, dengan pikiran kotor, seperti “ya semua harus lulus tepat waktu”, “nanti prodi atau jurusan yang dikuliahinya, akreditasinya jelek, nilainya turun kalau banyak yang DO (drop-out)”, “nanti kasihan anak itu kalau tidak lulus atau tinggal kelas”, dan lain sebagainya.

Lulus atau tidak lulus, seperti Surga dan Neraka. Kalau lulus ke surga, kalau tidak lulus ke neraka. Bedanya, kalau urusan akhirat ada pengampunan Tuhan yang Maha Pengampun. Tapi dalam proses pembelajaran, harusnya yang tidak lulus, belajar lagi sampai lulus, menguasai kompetensi yang ditargetkan.

Jujurlah, banyak yang masuk kategori “lulus” tapi “isinya” kosong, tidak bisa apa-apa, tidak menguasai kompetensi yang ditargetkan lembaga pendidikannya. Inilah persoalan pendidikan formal yang dibatasi waktu.

Makanya, semangatnya, niatnya, belajar itu karena Allah. Belajar itu, bukan targetnya lulus tidak lulus, targetnya bisa atau tidak, sampai bisa diamalkan. Apalagi kalau mengingat ilmu-ilmu kategori fardhu ain, wah, harus lulus, harus bisa menguasai. Jangan sampai karena alasan waktu habis, kemudian pendidik “berbaik hati” meluluskan. Fatal-lah, akibatnya.

Namanya juga sistem pendidikan industrialisasi. Semua orang harus mencapai tingkat pendidikan tertentu, pada usia tertentu. Itu betul. Tapi kebablasan kalau gara-gara urusan waktu belajar yang menjelang habis, kemudian seseorang dibuat lulus saja, padahal tidak memenuhi kriteria capaian kompetensi yang ditargetkan. Mana ada kualitas yang bisa dibanggakan.

Ya ini, keruwetan saya saja. Pikiran nyeleneh tentang kompetensi vs penilaian vs waktu penyelenggaraan pendidikan formal. Kalau ada manfaatnya syukur, kalau tidak, ya minimal di-sharing-kan, agar ada yang bantu mikir solusinya. Begitulah.

Positive Vibes! After Watch Young Lex ft AwKarin – BAD vs GOOD (Young Lex & Awkarin ‘BAD’ Parody)

Yah ini mah bicara fenomena zaman. Situasi “Good” vs “Bad” yang akan selalu begitu. Sampe kiamat.

Lagi rame nih, tentang Awkarin. Tau kan? Klik ini-lah: http://makassar.tribunnews.com/2016/07/24/kisah-karin-novilda-peraih-nilai-sempurna-un-matematika-2013-dan-begini-kenakalannya-sekarang atau search di google.

Hari ini, nulis ini, setelah nonton video klip di Youtube lagu Young Lex ft AwKarin berjudul BAD disambung klip berjudul GOOD (Young Lex & Awkarin ‘BAD’ Parody) hasil karya channel Youtube aldiramadhika.

Dalam kacamata pendidikan, jelas ini perlu perhatian. Ini fakta fenomena. Bahwa ada disorientasi arah pendidikan secara maknawi pada masyarakat kita saat ini. Entahlah, mungkin penyempitan makna pendidikan. Bahwa pendidikan hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, yang dihitung modalnya secara kuantitatif dari nilai UN belaka.

Saya sih, masih optimis. Masih banyak juga yang saya gali dari fenomena ini (GOOD vs BAD) di kalangan remaja saat ini. Dugaan saya, posisinya seimbang. Masih banyak yang memaknai dan mengasilkan pendidikan secara utuh, misalnya, dalam kacamata Kurikulum 2013 ada Kompetensi Inti: Spiritual, Sosial, Pengetahuan dan Keterampilan yang diupayakan para guru untuk melekat sebagai sebuah kompetensi siswa. Masihlah.. kita optimis.. Kenapa harus optimis? Lihatlah komentar-komentar dari di bawah kedua video klip tersebut. Insya Allah masih ada harapan positif, Positive Vibes!

Mengapa ini judul artikel diawali dengan “Positive Vibes”. Awalnya karena saya cek siapa itu aldiramadhika pada channel Youtube-nya. Muncullah dua situs, yaitu Aldi (http://www.aldiramadhika.com) and Jasmine (http://www.juliajasmine.com). Saya baca kedua situs itu, dan ya, setelah dibaca scanning, menimbulkan “positive vibes”, Good job, you Guys!

Positive vibes: to think positive, to stay positive, to spread positivity (http://www.urbandictionary.com/define.php?term=positive%20vibes).

Untuk karya Young Lex, saya salut, respect atas karyanya, tapi maaf, di luar konten, walaupun saya tahu niat liriknya untuk “menyatakan diri” in a positive way, cuma.. ya perspektif mereka. Untuk Aldi, saya juga salut, konten menjadi reminder, video, hm.. harus berterima kasih kepada Young Lex ft AwKarin. Dua-duanya, sekali lagi, adalah fenomena pendidikan, proses pendidikan, lingkungan pendidikan. Harus menjadi pelajaran, masukan, tentu saja untuk generasi masa depan yang lebih baik.

Kalau yang ingin nonton kedua versi BAD dan GOOD, baiknya ditonton dua-duanya, awali dengan menonton versi BAD (original) klik di bawah ini, dan klik di bawahnya lagi untuk versi GOOD (Parody). Enjoy!

Untuk yang GOOD, baca liriknya! Ngakak.. Positive Vibes!

So, apa opini Anda, Sahabat Pendidik?

 

Tambahan, setelah posting:

Wuih bersamaan tulisan ini langsung ada klarifikasi. Klarifikasinya, kita cermati, maknai, tetep lalu pendidikan mesti bagaimana?

Ah, gila ya? Ada saya ada waktu untuk bahas, nonton kayak gini? Yaelah.. ini fakta, haha.. Lalu, peran pendidikan, apa? Itu. #MarioTeguhStyle