Home » Posts tagged 'hypnosis'

Tag Archives: hypnosis

© Arie Rakhmat Riyadi.
Dec 2015.
All Rights Reserved.

Arsip

November 2021
M T W T F S S
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Next Event @LPP Salman

Mitos Seputar Hipnosis

Akhir-akhir ini di Indonesia khususnya, ramai dibicarakan bahkan dibuka pelatihan-pelatihan dan dibuatkan buku tentang berbagai aplikasi ilmu hipnosis di berbagai bidang. Dalam bidang pembelajaran dikenal hypnoteaching, dalam bidang penjualan terdapat hypnoselling, dalam bidang medis disebut hypnoanesthesia dan lain-lain. Kemudian, dalam praktik bimbingan dan konseling (BK) dikenal dengan istilah hypnocounseling. Bisa jadi itu semua merupakan diversifikasi pasar (baca: branding), atau saking melibatkan potensi dasar manusia, hipnosis bisa diaplikasikan dalam berbagai bidang khususnya yang berhubungan dengan urusan mempengaruhi manusia (kalimat “mempengaruhi manusia” baiknya perlu baca dan diskusi banyak, sebab prinsip utama hipnosis adalah “all hypnosis are self-hypnosis).

Hypnosis-Myths-630x315
http://www.hypnosiswithouttrance.com/wp-content/uploads/2014/11/Hypnosis-Myths-630×315.jpg

Hipnosis pada tataran praktik (aplikasi) di kalangan masyarakat Indonesia sebetulnya masih dianggap kontroversi. Apalagi pada setting BK, pro-kontra penggunaannya tidak dapat dihindari. Padahal faktanya, beberapa kalau tidak dikatakan banyak, praktisi BK di lapangan sudah mengenal hipnosis dan aplikasinya dalam konseling melalui beragam pelatihan dan buku.

Di Amerika sendiri, hipnosis telah diakui sebagai sebuah keilmuan yang khas dengan adanya Divisi 30 American Psychological Association (APA) – The Society of Psychological Hypnosis sejak tahun 1965. Telah banyak Doktor dan Ph.D dalam bidang ini. Tapi di Indonesia, hipnoterapi (penggunaan hipnosis untuk kepentingan terapi) baru masuk pada kategori jenis pelayanan Pengobatan Komplementer–Alternatif berdasarkan Permenkes RI, Nomor: 1109/Menkes/Per/2007, berada pada kelompok Intervensi Tubuh dan Pikiran (Mind and Body Interventions), sejajar dengan do’a, mediasi, yoga dan penyembuhan spiritual.

Berikut beberapa mitos yang dirangkum APA melalui Divisi 30 The Society of Psychological Hypnosis yang mungkin saja diyakini juga oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

  1. People in hypnosis lose control and can be made to say or do whatever the hypnotist wants. Bisa jadi di Indonesia memahami hipnosis demikian adanya. Gencarnya media manayangkan acara yang menampilkan seorang subjek atau “korban” hipnotis saat berada dalam kondisi hipnosis (trance) mengikuti apa saja yang dimintakan oleh penghipnosis, bahkan menceritakan rahasia yang terlihat tidak bisa dibendung dalam kondisi terhipnosis. Padahal, tentu saja ini tidak benar. Hipnosis membutuhkan kesediaan subjek, bisa jadi ungkapan rahasia itu dikemukakan karena memang yang bersangkutan bersedia untuk melakukannya, termasuk tindakan-tindakan aneh di luar kebiasaannya. Hal ini sesungguhnya termasuk dalam aplikasi hipnosis dalam dunia hiburan atau yang dikenal dengan istilah stage-hypnosis. Seseorang dengan pra-syarat tertentu diajak melakukan sesuatu murni untuk tujuan hiburan. Bila tidak bersedia atau tidak memenuhi pra-syarat untuk tampil, tentu ini tidak berlaku. Jika mitos ini benar, tentu saja banyak koruptor yang tertangkap karena temannya dihipnosis menceritakan kroni-kroni kejahatan yang dilakukannya.
  2. People may not be able to come out of hypnosis. Dengan anggapan bahwa semua tingkah laku atau kondisi yang dialami oleh subjek dikendalikan oleh hipnotis, maka seseorang yang dalam keadaan trance tidak bisa bangun dari kondisi tersebut sebelum mendapat izin atau diperintahkan oleh hipnotis. Itu adalah salah total. Faktanya, setiap orang yang masuk ke dalam kondisi hipnosis atau trance dapat kapan saja keluar dari kondisi tersebut, tanpa harus dibimbing oleh hipnotis atau hipnoterapis. Hal ini menegaskan bahwa subjek berada dalam kontrol penuh dirinya sendiri.
  3. Hypnosis only affects weak-willed or gullible people. Padahal ilmu hipnosis sederhananya mengandalkan komunikasi. Hipnosis tidak ada hubungannya dengan apakah seseorang itu lemah atau mudah ditipu. Semua orang yang memahami pola komunikasi akan dapat masuk ke dalam kondisi hipnosis. Bahkan, lebih baik adalah mereka orang yang memiliki kemampuan komunikasi yang baik dan atau memiliki pola komunikasi yang sama dengan hipnotis.
  4. Hypnosis enables people to re-experience a past life. Beberapa orang di kalangan hipnotis dan hipnoterapis, menganggap memang ada yang mengemukakan bahwa seseorang dapat memasuki kondisi kehidupan masa lalu sebelum dilahirkan (past life). Tetapi, hal ini telah diputuskan melalui klausul bahwa kondisi past life tersebut terkait dengan kemampuan metaphor dan proyeksi imajinasi individu tentang reincarnation. Oleh karena itu, teknik past life reggression selalu melibatkan pernyataan “if you believe in past lives…” (Hunter & Eimer, 2012: 159-220). Kalau kasus seseorang dalam kondisi hipnosis yang menemukan root couse melalui teknik reggresion saat dalam kandungan itu sering dijumpai.
  5. Hypnosis depends primarily on the skill of the hypnotist. Ada kalimat yang paling dikenal untuk membantah mitos ini, yaitu “all hypnosis is self-hypnosis” hal ini diungkapkan Erickson (Gunnison, 2011). Artinya, seseorang masuk ke dalam kondisi hipnosis utamanya bukan karena keahlian hipnotis, melainkan kesediaan dan kemampuan subjek itu sendiri untuk berada dalam kondisi tersebut. Dengan demikian, hipnotis atau hipnoterapis hanya memfasilitasi (membimbing) seseorang yang telah bersedia masuk ke dalam kondisi hipnosis atau trance. Keterampilan hipnotis dalam hal ini hanya mengandalkan kemampuan berkomunikasi dan memanfaatkan pengertian subjek dari proses komunikasi yang terjadi untuk akhirnya subjek mengendalikan dirinya sendiri untuk mengizinkan tubuh dan pikirannya masuk ke pikiran bawah sadar.

Referensi:

Bagian dari tulisan Makalah berjudul: Hipnosis dalam Tinjauan Keilmuan Bimbingan dan Konseling. Lebih dalam tentang tulisan klik KONTAK.

 

Apakah Hipnotis Dibolehkan? Bagaimana Hukumnya?

Saya share tentang ini, dengan harapan akan ada diskusi atau pencarian data lebih lengkap dan ilmiah dalam memandang hipnosis (hypnosis) atau orang awam menyebutnya hipnotis. Berikut uraian hukum hipnotis secara syar’i, yang dalam beberapa hal penggunaan kata hipnotis pada tulisan ini berada pada pemahaman dengan bantuan jin. Tentu yang lebih aman, kita harus, mesti lebih belajar banyak, baca banyak, dan melindungi diri dari hal-hal yang tidak disukai Tuhan, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bila ingin menghubungi saya untuk diskusi tentang hipnosis dan hipnoterapi dan aplikasi hipnosis dalam bidang-bidang pemberdayaan diri bisa KLIK DI SINI.

hypnosis
http://free-hypnosis-mp3.com/assets/img/slide_1.png

Berikut ini jawaban para ulama dalam komisi riset dan fatwa tentang hukum Hipnotis, semoga bermanfaat Fatwa Lajnah Da’imah[*] (Komisi Khusus Bidang Riset Ilmiah dan Fatwa) Saudi Arabia

Pertanyaan

Apa hukumnya hipnotis? dimana dengan kemampuan hipnotis tersebut, pelakunya dapat menerawangkan fikiran korban, lalu mengendalikan dirinya dan bisa membuatnya meninggalkan sesuatu yang diharamkan, sembuh dari penyakit tegang otot atau melakukan pebuatan yang dimintanya tersebut?

Jawaban Lajnah Da’imah sebagai berikut:

Pertama : (pendahuluan) Ilmu tentang hal-hal yang ghaib merupakan hak mutlak Allah Ta’ala , tidak ada seorang pun dari makhluk-Nya yang mengetahui, baik itu jin atau pun selain mereka, terkecuali Allah mengabarkan hal gaib tersebut kepada orang yang dikehedaki-Nya seperti kepada para malaikat atau para rasul-Nya berupa wahyu.

Dalam hal ini, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah. Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah” (QS. An-Naml : 65).

Dia juga berfirman berkenaan dengan Nabi Sulaiman dan kemampuannya menguasai bangsa jin. “Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya ,mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan” (QS. Saba : 14).

Demikian pula firman-Nya (yang artinya), “(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia pun tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan dibelakangnya” (QS. Al-Jin : 26-27).

Dalam sebuah hadits yang shahih dari An-Nuwas bin Sam’an Radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Bila Allah ingin memerintahkan suatu hal, Dia pun menyampaikan melalui perantaraan wahyu. lalu langit menjadi bergemuruh –dalam riwayat lain : bergemuruh yang amat sangat seperti disambar petir- karena rasa takut kepada Allah. Bila hal itu didengarkan oleh para penghuni langit, mereka pun pingsan dan bersimpuh sujud kepada Allah. Lalu yang pertama siuman adalah Jibril, maka Allah menyampaikan wahyu yang dikehendaki Nya kepada Jibril, lalu Jibril pun berkata, “Allah telah berfirman yang haq dan Dialah Yang Maha Tinggi Lagi Maha Besar”. Semua para malaikat pun mengatakan hal yang sama seperti yang telah dikatakan oleh Jibril. Lantas sampailah wahyu melalui Jibril hingga kepada apa yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala terhadapnya” [1]

Di dalam hadits Shahih yang lain dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda : “Bila Allah telah memutuskan suatu perkara dilangit, para malaikat mengepakkan sayap-sayapnya sebagai (refleksi) ketundukan terhadap firman-Nya, seakan-akan seperti rantai yang di pukulkan diatas batu besar yang licin. apabila rasa takut itu sudah hilang dari hati mereka, mereka bertanya “Apa yang telah difirmankan oleh Rabb kalian?”. Mereka yang lain menjawab, “ Allah telah berfirman dengan yang Hak dan Dialah Maha Tinggi Lagi Maha Besar”. Lalu kabar tersebut didengar oleh para pencuri berita dilangit, dan para pencuri berita langit dengan lainnya itu seperti ini, yang satu di atas yang lainnya (estafet). (Sufyan, periwayat hadits ini menggambarkan dengan tangannya ; merenggangkan jemari tangan kanannya, menegakkan sebagian ke atas sebagian yang lain).

Bisa jadi pencuri langit tersebut mendengar sebagian percakapan (para malaikat) kemudian menyampaikan berita tersebut kepada yang dibawahnya dan seterusnya sampai ketelinga para dukun dan tukang sihir, Atau bisa jadi para pencuri langit terbakar oleh panah api sebelum bisa menyampaikan berita, atau terbakar setelah menyampaikannya, maka para dukunpun berdusta dengan seratus kedustaan, maka mereka pun berkata, ‘Bukankah dia telah memberitahukan kepada kita pada hari anu dan anu terjadi begini dan begitu,dan ternyata benar ” dan dukunpun dipercaya hanya karena sedikit berita yang didengar dari pencuri kabar dilangit” [2].

Maka, tidak boleh meminta pertolongan kepada jin dan para makhluk selain mereka untuk mengetahui hal-hal ghaib, baik dengan cara memohon dan mendekatkan diri kepada mereka, member sesajen ataupun lainnya. Bahkan itu adalah perbuatan syirik karena ia merupakan jenis ibadah padahal Allah telah memberitahukan kepada para hamba-Nya agar mengkhususkan ibadah hanya untuk-Nya semata, yaitu agar mereka mengatakan, “Hanya kepada-Mu kami menyembah (beribadah) dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan“.

Juga telah terdapat hadits yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau berkata kepada Ibnu Abbas, “Bila engkau meminta, maka mintalah kepada Allah dan bila engkau memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah” [3]

Kedua : (hukum hipnotis) Hipnotis merupakan salah satu jenis sihir (perdukunan) yang mempergunakan jin sehingga si pelaku dapat menguasai diri korban, lalu berbicaralah dia melalui lisannya dan mendapatkan kekuatan untuk melakukan sebagian pekerjaan setelah dirinya dikuasainya. Hal ini bisa terjadi, jika si korban benar-benar serius bersamanya dan patuh. Ini adalah imbalan untuk para penghipnotis karena perbuatan syirik yang mereka persembahkan kepada jin tersebut.

Jin tersebut membuat si korban berada di bawah kendali si pelaku untuk melakukan pekerjaan atau berita yang dimintanya. Bantuan tersebut diberikan oleh jin bila ia memang serius melakukannya bersama si pelaku. Atas dasar ini, menggunakan hipnotis dan menjadikannya sebagai cara atau sarana untuk menunjukkan lokasi pencurian, benda yang hilang, mengobati pasien atau melakukan pekerjaan lain melalui si pelaku ini tidak boleh hukumnya. Bahkan, ini termasuk syirik karena alasan di atas dan karena hal itu termasuk berlindung kepada selain Allah terhadap hal yang merupakan sebab-sebab biasa dimana Allah Ta’ala menjadikannya dapat dilakukan oleh para makhluk dan membolehkannya bagi mereka. Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad Wa Alihi Wa Shahbihi Wa Sallam.

[Kumpulan Fatwa Lajnah Daimah, Juz 11, hal-400-402]

________

Catatan Kaki

[1]. As-Sunnah, Ibnu Abi Ashim, hal. 515; Shahih Ibnu Khuzaimah, kitab At-Tauhid, Juz I hal. 348-349, Al-Asma wa Ash-Shifat,Al-Baihaqy, hal.435, dan pengarang selain mereka. Dan didalam sanadnya terdapat periwayat bernama Nu’aim bin Hammad, dia seoran Mudallis (suka menyamarkan berita) dan dia meriwayatkannya dengan metode periwayatan an-an (mengatakan : dari si fulan, dari si fulan)

[2]. Shahih Al-Bukhari, Kitab At-Tafsir, no. 4701 [3]. HR Ahmad, no. 3699, 273, 2804 –versi analisis Syaikh Ahmad Syakir-, Sunan At-Turmudzi, kitab Shifah Al-Qiyamah, no. 2518

Kesimpulan diatas:

Perkara ghaib hanyalah milik Allah, dan tidak ada yang bisa mengetahuinya kecuali melalui perantaraan wahyu. Para dukun, tukang sihir dan para jin saling tolong menolong untuk melakukan kesyirikan. Dan Jin mengabarkan berita masa depan yang dicuri dari langit yang bisa jadi dia terbakar sebelum bisa menyampaikannya, dan para tukang sihir ataupun dukun berbohong dengan seribu kebohongan.

Namun, perkataan mereka dipercaya hanya karena kebetulan pernah satu kali benar dikarenakan berita langit yang sampai kepada mereka. Hukum hipnotis yang menggunakan para jin (ilmu gaib dan supra natural), walaupun hasilnya untuk pengobatan ataupun meninggalkan hal yang haram (mis: narkoba, dll) adalah termasuk bentuk kesyirikan. Maka hal ini terlarang.

Catatan tambahan : Adapun hipnoterapi yang dikembangkan oleh para ahli psikologi dengan mengembangkan teori otak kanan (alam bawah sadar) yang digunakan untuk terapi para pasien maka hal itu tidak termasuk, karena itu adalah ilmu yang ilmiah yang diperbolehkan dan dikembangkan secara logis dengan penelitian. Terapi yang dilakukan para ilmuwan psikolog terhadap para pasien berbeda dengan praktek yang dilakukan oleh para tukang hipnotis (baca: tukang sihir).

Terapi ilmiah menggunakan teknik-teknik tertentu yang bisa dipertanggungjawabkan secara keilmuan, dan bisa dijabarkan secara logis. Walaupun secara istilah disebut hipnoterapi (terapi hipnotis) namun secara praktek berbeda dengan hipnotis supranatural. Maka, hukumnya pun terkait pada hakekat bukan pada istilahnya.

Peringatan: Adapun kebanyakan praktek hipnotis yang berkembang dimasyarakat adalah bentuk yang pertama yang termasuk kedalam kategori sihir, yang menggunakan bantuan Jin. Mereka membungkus perbuatan syirik mereka dengan teori-teori ilmiah otak kanan dan kiri, dengan beragam bukti untuk mengelabui kebanyakan orang, namun pada hakekatnya adalah praktek sihir. Jadi kita perlu hati-hati dan mencermati dengan seksama.

Wallahu ‘Alam

Penyusun: tim tanya jawab Majalah As Sunnah

 

[*] Al Lajnah Ad Daimah lil buhuts wal ifta (komisi khusus bagian riset ilmiah dan fatwa) adalah sebuah lembaga riset dan fatwa di Negara Arab Saudi, yang beranggotakan para ulama yang terkemuka yang memiliki kapabilitas dibidangnya yang diakui dunia.


Sumber: Majalah As Sunnah

Dipublikasi ulang oleh  Muslim.Or.Id

Sumber: https://muslim.or.id/19502-bagaimana-hukum-hipnotis.html