Home » Posts tagged 'Masa Depan'

Tag Archives: Masa Depan

© Arie Rakhmat Riyadi.
Dec 2015.
All Rights Reserved.

Arsip

November 2021
M T W T F S S
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Acara #DiRumahAja Temanya Karir di Masa Depan

Memaknai Pendidikan melalui Perspektif Pembagian Zona Waktu

Ada enam zona waktu yang dijalani manusia. Dua fokus pada masa lalu. Dua fokus pada saat (masa) ini. Kemudian, dua fokus pada masa depan. Pendidikan menempati ruang waktu tersebut. Apa makna pendidikan dalam perspektif pembagian waktu tersebut?

backtothefuture
http://i.ytimg.com/vi/uPe_1DYcBEM/maxresdefault.jpg

Tulisan ini diinspirasi oleh tayangan dari youtube.com channel RSA berjudul The Secret Power of Time. Tayangan ini merupakan animasi ceramah yang disampaikan oleh Philip Zimbardo. Melalui beliau diketahui bahwa waktu terbagi menjadi enam zona. Ke enam zona waktu tersebut dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: dua berfokus pada masa lalu, dua fokus pada masa kini, dan dua fokus pada masa depan.

Fokus masa lalu yang terdiri dari dua itu, pertama disebut past positive .dan kedua disebut past negative. Past positive ini adalah ketika orang berfokus pada hal-hal yang berhubungan dengan kenangan baik masa lalu. Mengingat dan lebih banyak mengutarakan semua yang berkaitan dengan aktivitas menyenangkan di masa lalu (good old memories). Sedangkan past negative adalah ketika seseorang berfokus pada hal-hal yang terkait dengan masa lalu yang buruk. Bersifat traumatik dan penuh penyesalan atas semua yang telah di alami di masa lalu.

Fokus kedua adalah masa kini (present oriented). Ada dua present oriented, yaitu present hedonistic dan present deterministic. Kalau yang disebut pertama, orang memiliki pandangan bahwa hidup harus dinikmati, hidup merupakan sebuah kesenangan, bebas melakukan apapun yang diinginkan untuk memperoleh kesenangan di hari-hari yang dijalaninya. Ibaratnya, orang dengan fokus present hedonistic memiliki filosofi “hari-hariku hari minggu, malam-malamku malam minggu”. Berbeda dengan itu, present deterministic lebih menjalani kehidupan dengan pandangan bahwa segala sesuatunya telah diatur, tinggal menjalani, bahwa hidup tidak ada pilihan lain selain mengikuti hari-demi-hari berdasarkan apa yang telah ditentukan itu. Menjalani tanpa semangat. Menjalani hari berdasarkan takdir agama, takdir nasib, takdir kemampuan. Kecenderungannya seperti fix mindset bila meminjam istilah Carol Dweck dalam bukunya berjudul Mindset.

Bagian ketiga, yaitu fokus pada masa depan (future oriented). Ada dua juga. Pertama, berorientasi masa masa depan terkait visualisasi kesuksesan yang akan dicapai, orang memilih belajar atau bekerja untuk kepentingan masa depan dibandingkan dengan bermain-main dan bersenang-senang (menghindari godaan). Kedua, orientasi masa depan dengan keyakinan bahwa hidup yang sesungguhnya adalah setelah kematian. Untuk keduanya, orientasi fokus masa depan harus disertai dengan keyakinan, keyakinan bahwa masa depan itu ada.

Menariknya, pembagian zona waktu ini juga dapat dinilai berdasarkan konteks budaya dimana manusia itu tinggal dan hidup di sana. Misalnya, orang Italia terbagi menjadi dua zona waktu. Satu ke arah future oriented dan satu bagian lainnya cenderung past oriented. Hal tersebut dapat dilihat dari contoh kalimat yang digunakan. Orang Italia yang berorientasi masa depan menggunakan kata “will be”, sedangkan orang Italia pada wilayah lainnya menggunakan kata “was” “is”.

Manusia, awal dilahirkannya berada pada orientasi zona waktu present bahkan present hedonistic. Hanya mencari kesenangan dan menghindari kesengsaraan. Keluarga dan sekolah (pendidikan) adalah tempat untuk mengupayakan manusia agar mengurangi sifat-sifat buruk dari oreintasi zona waktu present ke arah yang lebih future oriented. Atas dasar itu, penyadaran manusia tentang kehidupan di masa depan merupakan titik penting pendidikan.

Lebih jauh, orientasi masa depan yang mensyaratkan keyakinan bahwa ada kehidupan setelah kehidupan dunia sangat terkait dengan konsep keimanan. Di sinilah pentingnya pendidikan agama dan pendidikan umum yang agamis. Bahwa segala upaya pendidikan yang dilakukan harus berorientasi pada nilai-nilai Ilahiah, berorientnasi masa depan (life after death) ketika nanti manusia akan berhadapan dengan Sang Maha Khalik. Bahkan dalam proses pendidikan yang dilakukan, manusia yang dididik juga pendidiknya perlu menjalani prosesnya semata-mata sebagai pengabdian (ibadah) untuk kepentingan masa depan, yaitu untuk memperoleh ganjaran (pahala) dari Tuhan.

Lebih lengkap, inspirasi tulisan ini dapat dilihat melalui tayangan pada link di bawah ini. Di dalamnya diuraikan pula sejumlah riset-riset tentang nilai waktu terhadap perilaku manusia, dan implikasinya terhadap praktik-teknis pendidikan yang berlandaskan pertimbangan waktu. Selamat mengambil pelajaran.