Home » Posts tagged 'Pendidik'

Tag Archives: Pendidik

© Arie Rakhmat Riyadi.
Dec 2015.
All Rights Reserved.

Arsip

November 2021
M T W T F S S
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Kompetensi vs Penilaian vs Waktu Penyelengaraan Pendidikan Formal

Gampang lulus, itu citra salah satu prodi yang menurut mahasiswanya sendiri, kuliah tidak usah terlalu serius, nanti juga lulus bareng-bareng.

kompetensi

Kenyataan yang terungkap dari mahasiswa tersebut menegaskan bahwa memang kuliah yang dijalaninya selain tidak serius, juga ada masalah dalam hal evaluasi, khususnya penilaian tentang pencapaian kompetensi yang harus dikuasainya.

Seorang pendidik, tentu memiliki tujuan dalam menyelenggarakan proses pendidikannya. Selain menyesuaikan disain pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikannya, pendidik juga harus mengukur keberhasilan apa yang dibelajarkannya pada anak didiknya melalui penilaian.

Tujuan utama penilaian adalah untuk mengetahui sampai dimana penguasaan anak didik terhadap apa yang dipelajarinya. Penilaian memberikan feedback. Selain itu, tujuan lain dari penilaian adalah untuk menyatakan posisi keberadaan peserta didik, apakah dirinya telah menguasai kompetensi yang ditargetkan pendidik atau belum. Bila ternyata diketahui dirinya belum menguasai kompetensi yang ditargetkan, maka posisinya berada pada istilah yang dikenal “tidak lulus”. Bila diketahui telah menguasai kompetensi yang ditargetkan, maka yang bersangkutan dinyatakan “lulus”.

Istilah “lulus” dan “tidak lulus”, mungkin dianggap terlalu “kasar”, sebab hanya terdiri dari dua kategori posisi anak didik setelah pembelajaran. Maka, dibuatlah kategori yang lebih “halus” ada, A, B, C, D, E, atau A, A-, B+, B, B- dan seterusnya, dan kategori “halus” lainnya. Jadi, lulus itu kategorinya banyak. A lulus, pasti. B dan C juga lulus, bahkan D sebenarnya irisan dari kategori lulus. Di sinilah persoalan muncul, ujungnya “lulus” dan “tidak lulus”. Lulus, menyatakan capaian kompetensi anak didik telah tercapai. Tidak lulus, anak didik belum menguasai tujuan pendidikan (baca, lingkup lebih kecil, pembelajaran) yang ditargetkan. Dan, kita bisa juga menyatakan siswa/mahasiswa lulus, padahal belum tentu kompeten pada kompetensi yang ditargetkan. Dengan bahasa umum, sering dikatakan “yang penting lulus, nanti kan gak akan ditanya lulus nilainya gimana? skripsi/tesis/disertasinya apa? IPK berapa? Mungkin IPK cukup pentinglah, perusahaan atau tempat kerja selalu meminta batas minimal IPK tertentu. Tapi, umumnya, kan yang penting “lulus”…

pass-fail

Kalau kurikulumnya berbasis kompetensi, sedangkan kompetensi adalah suatu kemampuan untuk melaksanakan atau melakukan sesuatu atau tugas yang dilandasi atas keterampilan dan pengetahuan serta didukung oleh sikap yang dituntut oleh pekerjaan tersebut, maka bila seseorang dinyatakan pada kategori “tidak lulus” harusnya dia ulang terus belajarnya, sampai benar-benar memenuhi kompetensi yang ditargetkan. Jadi kalau seseorang tidak memenuhi kriteria kompetensi yang ditargetkan, ya jangan diluluskan.

Muncullah, ketuntasan minimal, atau seseorang disebut lulus minimal segini-segitu. Namanya juga minimal, itu kerangka pikir pesimistis. Standar, adalah ukuran minimal. Ceritanya begitu. Jadi ukurannya sebenarnya relatif. Bagi seseorang sebuah standar, belum tentu menjadi standar orang lain. Setuju tidak setuju, jadilah standar, sesuatu yang harus dicapai sebagai kriteria kelulusan. Sama saja, kalau misalnya seseorang katakanlah berhasil melewati standar, berarti dia lulus. Dan kalau misalnya seseorang masuk kategori tidak lulus, harusnya mengulang, sampai lulus tercapai.

Nah, membuat seseorang tidak berada pada kategori tidak lulus ada sejumlah pertimbangan ternyata. Misalnya, seorang mahasiswa yang skripsinya jeleknya minta ampun, yang idealnya tidak lulus, terpaksa harus lulus, dengan pikiran kotor, seperti “ya semua harus lulus tepat waktu”, “nanti prodi atau jurusan yang dikuliahinya, akreditasinya jelek, nilainya turun kalau banyak yang DO (drop-out)”, “nanti kasihan anak itu kalau tidak lulus atau tinggal kelas”, dan lain sebagainya.

Lulus atau tidak lulus, seperti Surga dan Neraka. Kalau lulus ke surga, kalau tidak lulus ke neraka. Bedanya, kalau urusan akhirat ada pengampunan Tuhan yang Maha Pengampun. Tapi dalam proses pembelajaran, harusnya yang tidak lulus, belajar lagi sampai lulus, menguasai kompetensi yang ditargetkan.

Jujurlah, banyak yang masuk kategori “lulus” tapi “isinya” kosong, tidak bisa apa-apa, tidak menguasai kompetensi yang ditargetkan lembaga pendidikannya. Inilah persoalan pendidikan formal yang dibatasi waktu.

Makanya, semangatnya, niatnya, belajar itu karena Allah. Belajar itu, bukan targetnya lulus tidak lulus, targetnya bisa atau tidak, sampai bisa diamalkan. Apalagi kalau mengingat ilmu-ilmu kategori fardhu ain, wah, harus lulus, harus bisa menguasai. Jangan sampai karena alasan waktu habis, kemudian pendidik “berbaik hati” meluluskan. Fatal-lah, akibatnya.

Namanya juga sistem pendidikan industrialisasi. Semua orang harus mencapai tingkat pendidikan tertentu, pada usia tertentu. Itu betul. Tapi kebablasan kalau gara-gara urusan waktu belajar yang menjelang habis, kemudian seseorang dibuat lulus saja, padahal tidak memenuhi kriteria capaian kompetensi yang ditargetkan. Mana ada kualitas yang bisa dibanggakan.

Ya ini, keruwetan saya saja. Pikiran nyeleneh tentang kompetensi vs penilaian vs waktu penyelenggaraan pendidikan formal. Kalau ada manfaatnya syukur, kalau tidak, ya minimal di-sharing-kan, agar ada yang bantu mikir solusinya. Begitulah.

Memaknai Pendidikan melalui Perspektif Pembagian Zona Waktu

Ada enam zona waktu yang dijalani manusia. Dua fokus pada masa lalu. Dua fokus pada saat (masa) ini. Kemudian, dua fokus pada masa depan. Pendidikan menempati ruang waktu tersebut. Apa makna pendidikan dalam perspektif pembagian waktu tersebut?

backtothefuture
http://i.ytimg.com/vi/uPe_1DYcBEM/maxresdefault.jpg

Tulisan ini diinspirasi oleh tayangan dari youtube.com channel RSA berjudul The Secret Power of Time. Tayangan ini merupakan animasi ceramah yang disampaikan oleh Philip Zimbardo. Melalui beliau diketahui bahwa waktu terbagi menjadi enam zona. Ke enam zona waktu tersebut dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: dua berfokus pada masa lalu, dua fokus pada masa kini, dan dua fokus pada masa depan.

Fokus masa lalu yang terdiri dari dua itu, pertama disebut past positive .dan kedua disebut past negative. Past positive ini adalah ketika orang berfokus pada hal-hal yang berhubungan dengan kenangan baik masa lalu. Mengingat dan lebih banyak mengutarakan semua yang berkaitan dengan aktivitas menyenangkan di masa lalu (good old memories). Sedangkan past negative adalah ketika seseorang berfokus pada hal-hal yang terkait dengan masa lalu yang buruk. Bersifat traumatik dan penuh penyesalan atas semua yang telah di alami di masa lalu.

Fokus kedua adalah masa kini (present oriented). Ada dua present oriented, yaitu present hedonistic dan present deterministic. Kalau yang disebut pertama, orang memiliki pandangan bahwa hidup harus dinikmati, hidup merupakan sebuah kesenangan, bebas melakukan apapun yang diinginkan untuk memperoleh kesenangan di hari-hari yang dijalaninya. Ibaratnya, orang dengan fokus present hedonistic memiliki filosofi “hari-hariku hari minggu, malam-malamku malam minggu”. Berbeda dengan itu, present deterministic lebih menjalani kehidupan dengan pandangan bahwa segala sesuatunya telah diatur, tinggal menjalani, bahwa hidup tidak ada pilihan lain selain mengikuti hari-demi-hari berdasarkan apa yang telah ditentukan itu. Menjalani tanpa semangat. Menjalani hari berdasarkan takdir agama, takdir nasib, takdir kemampuan. Kecenderungannya seperti fix mindset bila meminjam istilah Carol Dweck dalam bukunya berjudul Mindset.

Bagian ketiga, yaitu fokus pada masa depan (future oriented). Ada dua juga. Pertama, berorientasi masa masa depan terkait visualisasi kesuksesan yang akan dicapai, orang memilih belajar atau bekerja untuk kepentingan masa depan dibandingkan dengan bermain-main dan bersenang-senang (menghindari godaan). Kedua, orientasi masa depan dengan keyakinan bahwa hidup yang sesungguhnya adalah setelah kematian. Untuk keduanya, orientasi fokus masa depan harus disertai dengan keyakinan, keyakinan bahwa masa depan itu ada.

Menariknya, pembagian zona waktu ini juga dapat dinilai berdasarkan konteks budaya dimana manusia itu tinggal dan hidup di sana. Misalnya, orang Italia terbagi menjadi dua zona waktu. Satu ke arah future oriented dan satu bagian lainnya cenderung past oriented. Hal tersebut dapat dilihat dari contoh kalimat yang digunakan. Orang Italia yang berorientasi masa depan menggunakan kata “will be”, sedangkan orang Italia pada wilayah lainnya menggunakan kata “was” “is”.

Manusia, awal dilahirkannya berada pada orientasi zona waktu present bahkan present hedonistic. Hanya mencari kesenangan dan menghindari kesengsaraan. Keluarga dan sekolah (pendidikan) adalah tempat untuk mengupayakan manusia agar mengurangi sifat-sifat buruk dari oreintasi zona waktu present ke arah yang lebih future oriented. Atas dasar itu, penyadaran manusia tentang kehidupan di masa depan merupakan titik penting pendidikan.

Lebih jauh, orientasi masa depan yang mensyaratkan keyakinan bahwa ada kehidupan setelah kehidupan dunia sangat terkait dengan konsep keimanan. Di sinilah pentingnya pendidikan agama dan pendidikan umum yang agamis. Bahwa segala upaya pendidikan yang dilakukan harus berorientasi pada nilai-nilai Ilahiah, berorientnasi masa depan (life after death) ketika nanti manusia akan berhadapan dengan Sang Maha Khalik. Bahkan dalam proses pendidikan yang dilakukan, manusia yang dididik juga pendidiknya perlu menjalani prosesnya semata-mata sebagai pengabdian (ibadah) untuk kepentingan masa depan, yaitu untuk memperoleh ganjaran (pahala) dari Tuhan.

Lebih lengkap, inspirasi tulisan ini dapat dilihat melalui tayangan pada link di bawah ini. Di dalamnya diuraikan pula sejumlah riset-riset tentang nilai waktu terhadap perilaku manusia, dan implikasinya terhadap praktik-teknis pendidikan yang berlandaskan pertimbangan waktu. Selamat mengambil pelajaran.