Home » Posts tagged 'Waktu'

Tag Archives: Waktu

© Arie Rakhmat Riyadi.
Dec 2015.
All Rights Reserved.

Arsip

November 2021
M T W T F S S
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Sholat Tepat Waktu, Laki-laki Di Masjid!

Kita resapi dan praktikan isi hadits berikut.

Status hadist: Shahih.

Ketika seorang laki-laki berjalan pada suatu jalan dan menemukan dahan berduri lalu ia membuangnya maka Allah menyanjungnya dan mengampuni dosanya.

Kemudian beliau bersabda:

Orang yang mati syahid itu ada lima; orang yang mati karena penyakit kusta, orang yang mati karena sakit perut, orang yang mati kerena tenggelam, orang yang mati karena tertimpa reruntuhan dan orang yang terbunuh di jalan Allah.”

Beliau melanjutkan sabdanya:

solat-jemaah
http://syaamilquran.com/wp-content/uploads/solat-jemaah.jpg

Seandainya manusia mengetahui apa (kebaikan) yang terdapat pada adzan dan shaf awal, lalu mereka tidak dapat meraihnya kecuali dengan cara mengundi tentulah mereka akan mengundi. Dan seandainya mereka mengetahui apa yang terdapat pada bersegera menuju shalat, tentulah mereka akan berlomba-lomba. Dan seandainya mereka mengetahui kebaikan yang terdapat pada shalat ‘Atamah (shalat ‘Isya’) dan Shubuh, tentulah mereka akan mendatanginya walaupun harus dengan merangkak.”

(HR. Bukhari: 615) – http://hadits.in/bukhari/615

Saksikanlah video ini.

Selamat menunaikan ibadah Sholat, Ikhwah.. Semoga istiqomah.. aamiin..

Kompetensi vs Penilaian vs Waktu Penyelengaraan Pendidikan Formal

Gampang lulus, itu citra salah satu prodi yang menurut mahasiswanya sendiri, kuliah tidak usah terlalu serius, nanti juga lulus bareng-bareng.

kompetensi

Kenyataan yang terungkap dari mahasiswa tersebut menegaskan bahwa memang kuliah yang dijalaninya selain tidak serius, juga ada masalah dalam hal evaluasi, khususnya penilaian tentang pencapaian kompetensi yang harus dikuasainya.

Seorang pendidik, tentu memiliki tujuan dalam menyelenggarakan proses pendidikannya. Selain menyesuaikan disain pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikannya, pendidik juga harus mengukur keberhasilan apa yang dibelajarkannya pada anak didiknya melalui penilaian.

Tujuan utama penilaian adalah untuk mengetahui sampai dimana penguasaan anak didik terhadap apa yang dipelajarinya. Penilaian memberikan feedback. Selain itu, tujuan lain dari penilaian adalah untuk menyatakan posisi keberadaan peserta didik, apakah dirinya telah menguasai kompetensi yang ditargetkan pendidik atau belum. Bila ternyata diketahui dirinya belum menguasai kompetensi yang ditargetkan, maka posisinya berada pada istilah yang dikenal “tidak lulus”. Bila diketahui telah menguasai kompetensi yang ditargetkan, maka yang bersangkutan dinyatakan “lulus”.

Istilah “lulus” dan “tidak lulus”, mungkin dianggap terlalu “kasar”, sebab hanya terdiri dari dua kategori posisi anak didik setelah pembelajaran. Maka, dibuatlah kategori yang lebih “halus” ada, A, B, C, D, E, atau A, A-, B+, B, B- dan seterusnya, dan kategori “halus” lainnya. Jadi, lulus itu kategorinya banyak. A lulus, pasti. B dan C juga lulus, bahkan D sebenarnya irisan dari kategori lulus. Di sinilah persoalan muncul, ujungnya “lulus” dan “tidak lulus”. Lulus, menyatakan capaian kompetensi anak didik telah tercapai. Tidak lulus, anak didik belum menguasai tujuan pendidikan (baca, lingkup lebih kecil, pembelajaran) yang ditargetkan. Dan, kita bisa juga menyatakan siswa/mahasiswa lulus, padahal belum tentu kompeten pada kompetensi yang ditargetkan. Dengan bahasa umum, sering dikatakan “yang penting lulus, nanti kan gak akan ditanya lulus nilainya gimana? skripsi/tesis/disertasinya apa? IPK berapa? Mungkin IPK cukup pentinglah, perusahaan atau tempat kerja selalu meminta batas minimal IPK tertentu. Tapi, umumnya, kan yang penting “lulus”…

pass-fail

Kalau kurikulumnya berbasis kompetensi, sedangkan kompetensi adalah suatu kemampuan untuk melaksanakan atau melakukan sesuatu atau tugas yang dilandasi atas keterampilan dan pengetahuan serta didukung oleh sikap yang dituntut oleh pekerjaan tersebut, maka bila seseorang dinyatakan pada kategori “tidak lulus” harusnya dia ulang terus belajarnya, sampai benar-benar memenuhi kompetensi yang ditargetkan. Jadi kalau seseorang tidak memenuhi kriteria kompetensi yang ditargetkan, ya jangan diluluskan.

Muncullah, ketuntasan minimal, atau seseorang disebut lulus minimal segini-segitu. Namanya juga minimal, itu kerangka pikir pesimistis. Standar, adalah ukuran minimal. Ceritanya begitu. Jadi ukurannya sebenarnya relatif. Bagi seseorang sebuah standar, belum tentu menjadi standar orang lain. Setuju tidak setuju, jadilah standar, sesuatu yang harus dicapai sebagai kriteria kelulusan. Sama saja, kalau misalnya seseorang katakanlah berhasil melewati standar, berarti dia lulus. Dan kalau misalnya seseorang masuk kategori tidak lulus, harusnya mengulang, sampai lulus tercapai.

Nah, membuat seseorang tidak berada pada kategori tidak lulus ada sejumlah pertimbangan ternyata. Misalnya, seorang mahasiswa yang skripsinya jeleknya minta ampun, yang idealnya tidak lulus, terpaksa harus lulus, dengan pikiran kotor, seperti “ya semua harus lulus tepat waktu”, “nanti prodi atau jurusan yang dikuliahinya, akreditasinya jelek, nilainya turun kalau banyak yang DO (drop-out)”, “nanti kasihan anak itu kalau tidak lulus atau tinggal kelas”, dan lain sebagainya.

Lulus atau tidak lulus, seperti Surga dan Neraka. Kalau lulus ke surga, kalau tidak lulus ke neraka. Bedanya, kalau urusan akhirat ada pengampunan Tuhan yang Maha Pengampun. Tapi dalam proses pembelajaran, harusnya yang tidak lulus, belajar lagi sampai lulus, menguasai kompetensi yang ditargetkan.

Jujurlah, banyak yang masuk kategori “lulus” tapi “isinya” kosong, tidak bisa apa-apa, tidak menguasai kompetensi yang ditargetkan lembaga pendidikannya. Inilah persoalan pendidikan formal yang dibatasi waktu.

Makanya, semangatnya, niatnya, belajar itu karena Allah. Belajar itu, bukan targetnya lulus tidak lulus, targetnya bisa atau tidak, sampai bisa diamalkan. Apalagi kalau mengingat ilmu-ilmu kategori fardhu ain, wah, harus lulus, harus bisa menguasai. Jangan sampai karena alasan waktu habis, kemudian pendidik “berbaik hati” meluluskan. Fatal-lah, akibatnya.

Namanya juga sistem pendidikan industrialisasi. Semua orang harus mencapai tingkat pendidikan tertentu, pada usia tertentu. Itu betul. Tapi kebablasan kalau gara-gara urusan waktu belajar yang menjelang habis, kemudian seseorang dibuat lulus saja, padahal tidak memenuhi kriteria capaian kompetensi yang ditargetkan. Mana ada kualitas yang bisa dibanggakan.

Ya ini, keruwetan saya saja. Pikiran nyeleneh tentang kompetensi vs penilaian vs waktu penyelenggaraan pendidikan formal. Kalau ada manfaatnya syukur, kalau tidak, ya minimal di-sharing-kan, agar ada yang bantu mikir solusinya. Begitulah.

Tonton Ini Sering, Semoga Sholat dan Doa Jadi Lebih Khusyu

Manfaat video di bawah ini, buat saya di antaranya:

  1. memperoleh dorongan memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya
  2. menyegerakan kebaikan
  3. takut menghalalkan segala cara
  4. menikmati kehidupan dunia dengan penuh syukur
  5. mencari cara agar selalu mencari bekal

nomor 6 dan seterusnya mungkin bisa anda tambahkan…

Semoga istiqomah..